STOCKWATCH.ID (SEOUL) Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik kompak kembali menguat pada penutupan perdagangan Kamis (5/3/2026). Investor menyambut baik perbaikan sentimen pasar setelah beberapa hari mencetak kerugian tajam. Pemulihan ini muncul seiring meredanya kekhawatiran terhadap lonjakan harga minyak dunia.
Mengutip LSEG, indeks Kospi Korea Selatan sempat melonjak hingga 12% pada awal sesi. Indeks ini mencetak pemulihan tajam setelah sehari sebelumnya anjlok 12% dan menjadi penurunan harian terburuknya. Kospi akhirnya ditutup naik 9,6% ke level 5.583,9. Saham raksasa SK Hynix dan Samsung Electronics melonjak masing-masing di atas 10% dan 11%.
Indeks Kosdaq yang mencakup saham berkapitalisasi kecil ikut terbang. Indeks ini ditutup melesat 14,1% ke level 1.116,41. Korea Exchange sempat menghentikan sementara perdagangan kedua indeks tersebut akibat reli yang terlalu tajam.
Global Market Strategist di Yuanta Securities, Daniel Yoo, memberikan penjelasan terkait pemulihan pasar saham Korea Selatan. Pembalikan aksi jual dari dana pinjaman menjadi pendorong utamanya. Gelombang margin call di kalangan investor ritel sempat memicu aksi jual besar-besaran pada awal pekan.
“Ini tidak ada hubungannya dengan fundamental,” ujar Yoo.
“Tetapi begitu posisi tersebut diselesaikan pasar mulai pulih,” tambahnya.
Global Market Strategist di J.P. Morgan Asset Management, Raisah Rasid, turut memberikan pandangannya. Ketidakpastian harga minyak sangat mempengaruhi negara pengimpor minyak mentah utama seperti Korea Selatan. Kondisi ini bisa membebani neraca transaksi berjalan dan menambah tekanan inflasi domestik.
“Aksi jual pada hari Rabu terutama didorong oleh risiko kenaikan harga minyak yang berasal dari perkembangan geopolitik yang terus berkembang,” kata Rasid.
Harga minyak dunia kini mulai berangsur stabil. Pengamat pasar menyebut sentimen risiko kembali membaik dan saham Korea sukses bangkit.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada hari Rabu menyatakan kesiapan Washington. Pihaknya akan meluncurkan serangkaian langkah penstabilan pengiriman minyak lewat Teluk Persia. Pemerintah AS siap turun tangan mengatasi ketegangan geopolitik di koridor energi paling penting di dunia tersebut.
Dinamika pasokan dan permintaan di sektor cip memori kemungkinan tetap ketat sepanjang tahun ini. Kondisi serupa juga diprediksi terjadi hingga tahun depan. Fundamental jangka panjang untuk saham Korea masih tetap utuh. Data Morningstar menunjukkan Samsung dan SK Hynix menguasai hampir 50% bobot indeks Kospi.
Investment Director of Asian Equities di Aberdeen Investments, Kieron Poon, menyoroti faktor libur nasional. Pasar saham Korea baru merespons kondisi global setelah tutup pada hari Senin. Penurunan pada hari Selasa dan Rabu mencerminkan penumpukan sentimen penghindaran risiko dari para investor.
Pasar saham Asia-Pasifik lainnya juga melonjak pada perdagangan hari Kamis. Indeks Nikkei 225 Jepang naik 1,9% dan berakhir pada posisi 55.278,06. Indeks S&P/ASX 200 di Australia naik 0,44% dan menutup hari perdagangan di level 8.940,30.
Pasar saham China juga mencatatkan kinerja positif. Indeks Hang Seng di Hong Kong naik 0,35%. Indeks CSI 300 menguat 0,98% ke level 4.647,69. Sementara itu, Shanghai Composite naik 0,64% ke posisi 4.108,56.
China baru saja menetapkan target pertumbuhan ekonomi tahun 2026 sebesar 4,5% hingga 5%. Angka ini merupakan target terendah sejak awal tahun 1990-an. Target ini turun dari angka sekitar 5% dalam tiga tahun terakhir. Beijing kini tengah bergulat dengan tekanan deflasi dan ketegangan perdagangan dengan AS.
Pemerintah China juga mempertahankan target defisit anggaran. Angkanya tidak berubah dari tahun lalu yakni sekitar 4% dari PDB. Keputusan ini diambil saat Kongres Rakyat Nasional mengadakan pertemuan tahunan minggu ini.
“Pasar global kemungkinan akan tetap fluktuatif dalam waktu dekat, dan masih ada ruang untuk penurunan lebih lanjut jika penghindaran risiko global terus berlanjut seiring berlarut-larutnya perang Iran,” ungkap Poon.
