STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik kompak melemah pada penutupan perdagangan Kamis (12/3/2026). Investor mengkhawatirkan fluktuasi harga minyak mentah dunia. Kondisi ini dipicu oleh eskalasi ketegangan perang di Timur Tengah yang melibatkan Iran.
Mengutip CNB International, sentimen negatif tetap membayangi pasar meski Amerika Serikat (AS) dan sekutunya mengumumkan pelepasan cadangan minyak darurat. Langkah besar ini bertujuan menenangkan pasar energi global. International Energy Agency (IEA) sepakat melepas 400 juta barel minyak.
Pelepasan cadangan ini menjadi aksi terbesar dalam sejarah organisasi tersebut. IEA melakukan langkah ini setelah terjadi gangguan pasokan akibat perang Iran. Namun, lembaga tersebut belum menetapkan jadwal pasti kapan stok tersebut masuk ke pasar.
Menteri Energi AS, Chris Wright memberikan pernyataan resmi pada Rabu malam waktu setempat. Ia mengonfirmasi keterlibatan Negeri Paman Sam dalam upaya stabilisasi harga energi tersebut.
“AS akan melepas 172 juta barel minyak dari Cadangan Minyak Strategis untuk membantu menurunkan biaya energi,” ujar Chris Wright.
Pengumuman ini menyusul pernyataan Presiden AS, Donald Trump sebelumnya. Trump berencana menggunakan Cadangan Minyak Strategis untuk menahan lonjakan harga energi. Meski ada intervensi cadangan minyak, harga emas hitam tetap melonjak tinggi.
Minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak 3,82% ke level USD 90,55 per barel. Minyak mentah Brent juga diperdagangkan naik 4,19% di posisi USD 95,8 per barel. Brent bahkan sempat menyentuh level di atas USD 100 per barel sebelum kenaikannya sedikit melandai.
Bursa Australia memimpin penurunan di kawasan. Indeks S&P/ASX 200 merosot 1,31% ke level 8.629. Sektor jasa akademik dan pendidikan menjadi penekan utama indeks di Negeri Kanguru.
Bursa Jepang juga tertekan cukup dalam. Indeks Nikkei 225 terpangkas 1,04% dan berakhir di posisi 54.452,96. Sektor real estat menjadi beban utama bagi bursa Tokyo. Indeks Topix yang lebih luas turut melemah 1,32% menjadi 3.649,85.
Di Korea Selatan, indeks Kospi menutup sesi dengan koreksi 0,48% di level 5.583,25. Sebaliknya, indeks Kosdaq yang berisi saham-saham kapitalisasi kecil mampu melawan arus. Kosdaq menguat 1,02% ke posisi 1.148,4.
Pasar saham China daratan juga berakhir di zona merah. Indeks CSI 300 turun 0,36% ke level 4.687,56. Indeks Hang Seng di Hong Kong terpantau melemah 0,33% pada jam terakhir perdagangan.
