STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mencatat marketing sales sebesar Rp2 triliun hingga akhir Mei 2026 atau setara 38% dari target penjualan tahun ini sebesar Rp5,2 triliun. Perseroan menilai kinerja tersebut masih berada di jalur yang baik meski industri properti menghadapi tantangan kenaikan suku bunga dan ketidakpastian ekonomi global.
Hal itu disampaikan manajemen Summarecon dalam Public Expose usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Direktur SMRA, Lydia Tjio, mengatakan marketing sales hingga akhir Mei 2026 telah mencapai Rp2 triliun.
“Marketing sales kita sampai dengan di akhir bulan Mei 2026 ini dapat dikatakan cukup baik karena sudah mencapai Rp2 triliun. Yang berarti merepresentasikan sebesar 38% dari total target kita yang Rp5,2 triliun,” kata Lydia.
Menurut Lydia, kenaikan suku bunga acuan menjadi 5,5% berpotensi memberikan dampak terhadap sektor properti, mulai dari bunga kredit pemilikan rumah (KPR), bunga pinjaman perbankan, hingga harga bahan bangunan akibat pengaruh nilai tukar dan dinamika geopolitik.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, perseroan akan menerapkan pengelolaan keuangan secara hati-hati dan meningkatkan efisiensi operasional.
“Kami juga berusaha di dalam internal perusahaan akan cukup mengelola dengan prudent segala pengeluaran, efisiensi akan kita lakukan dalam segala bidang,” ujar Lydia.
Ia menambahkan, selama lima bulan pertama 2026, penjualan Summarecon masih ditopang segmen menengah hingga menengah atas yang dinilai memiliki daya tahan lebih baik dibanding segmen lainnya. Perseroan juga melihat tren pembayaran tunai dan cicilan bertahap semakin meningkat dibandingkan penggunaan fasilitas KPR.
Terkait insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP), Lydia menilai program tersebut masih memberikan kontribusi positif terhadap penjualan properti.
Hingga Mei 2026, nilai penjualan yang memanfaatkan fasilitas PPN DTP telah mencapai Rp874 miliar. Adapun target penjualan yang berasal dari program tersebut hingga akhir tahun dipatok sebesar Rp1,5 triliun.
President Director SMRA, Adrianto P. Adhi, menegaskan insentif PPN DTP masih sangat dibutuhkan industri properti.
“PPN DTP ini memang di berbagai kesempatan saya selalu sampaikan bahwa ini satu kebijakan yang sangat bagus dan rasanya kami masih butuh,” ujar Adrianto.
Menurut dia, kebijakan tersebut tidak hanya membantu pengembang mempercepat pembangunan proyek, tetapi juga memberikan manfaat langsung kepada konsumen.
“Ini menjadikan sesuatu yang sangat bagus, pengembang juga didorong untuk bisa lebih konsisten ketika menjual dan membangun. Sisi yang lain tentunya masyarakat konsumen mendapatkan satu seakan-akan diskon sebesar bernilai PPN itu sendiri,” katanya.
Untuk mendukung pengembangan bisnis tahun ini, Summarecon tetap mengalokasikan belanja modal untuk akuisisi lahan di sembilan kawasan kota terpadu yang telah dimiliki perseroan. Selain itu, perusahaan tengah membangun Summarecon Mall Makassar dengan nilai proyek sekitar Rp600 miliar.
Pusat perbelanjaan tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal I 2028.
Dalam kesempatan yang sama, manajemen juga memaparkan kinerja tahun buku 2025. Summarecon membukukan marketing sales sebesar Rp5,53 triliun atau tumbuh 27% dibanding tahun sebelumnya dan melampaui target Rp5 triliun.
Perseroan mencatat pendapatan sebesar Rp8,77 triliun dengan laba bersih Rp1,20 triliun sepanjang 2025. Segmen pengembangan properti menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan Rp5,51 triliun atau sekitar 63% dari total pendapatan. Sementara segmen investasi properti dan manajemen menyumbang Rp2,28 triliun serta bisnis lain-lain sebesar Rp981,12 miliar.
Dalam RUPST, pemegang saham juga menyetujui pembagian dividen sebesar Rp5 per saham atau total Rp82,54 miliar.
Untuk tahun 2026, Summarecon menargetkan marketing sales sebesar Rp5,2 triliun yang berasal dari pengembangan sembilan kawasan kota terpadu milik perseroan.

