back to top

Selat Hormuz Terkunci, Harga Minyak Dunia Meroket Hingga Tembus USD 100

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak tajam lebih dari 9% pada akhir perdagangan Kamis (12/3/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (13/3/2026) WIB. Kenaikan ini membawa harga minyak Brent kembali menembus level USD 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Agustus 2022. Lonjakan dipicu oleh komitmen Iran untuk terus menutup jalur pelayaran vital di Selat Hormuz.

Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent melonjak 8,48 USD atau 9,22%. Harga minyak acuan global ini ditutup pada level 100,46 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) meroket 8,48 USD atau 9,72%. Minyak WTI berakhir pada posisi 95,73 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.

Pasar bereaksi keras atas pernyataan Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei. Ia bersumpah menjaga Selat Hormuz tetap tertutup guna menekan Amerika Serikat (AS). Mojtaba merupakan putra dari mendiang Ayatollah Ali Khamenei yang tewas pada awal perang tersebut.

Ketegangan di Timur Tengah semakin nyata dengan berlanjutnya serangan terhadap kapal komersial di Teluk Persia. Baru-baru ini, dua kapal tanker minyak dan sebuah kapal kargo terkena serangan di lepas pantai Irak serta Uni Emirat Arab. Jalur ini sangat strategis karena menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak mentah dunia.

Para pakar dari bank Belanda, ING, menyoroti pentingnya kelancaran arus minyak di selat tersebut. Penutupan jalur pelayaran menjadi faktor utama yang menjaga harga tetap tinggi.

“Satu-satunya cara melihat harga minyak diperdagangkan lebih rendah secara berkelanjutan adalah dengan membuat minyak mengalir melalui Selat Hormuz,” tulis tim strategis ING dalam catatan risetnya. Mereka menambahkan, “Kegagalan untuk melakukan hal tersebut berarti harga tertinggi pasar masih ada di depan kita.”

Menteri Energi AS, Chris Wright, mengakui kekuatan militer saat ini belum difokuskan pada pengawalan kapal. Armada Angkatan Laut AS di wilayah tersebut masih berkonsentrasi menghancurkan kemampuan ofensif Iran. Wright menyebut pengawalan tanker belum bisa dilakukan dalam waktu dekat.

International Energy Agency (IEA) sebenarnya telah berupaya meredam gejolak harga. Lembaga ini mengumumkan pelepasan cadangan darurat sebesar 400 juta barel. Jumlah ini merupakan intervensi terbesar dalam sejarah organisasi tersebut.

AS ikut berkontribusi dengan melepas 172 juta barel dari Cadangan Minyak Strategis. Namun, pelaku pasar meragukan langkah tersebut mampu menambal celah pasokan akibat penutupan Selat Hormuz. Dibutuhkan waktu sekitar 120 hari bagi AS untuk menyelesaikan proses pelepasan cadangan tersebut.

Analis energi dari MST Marquee, Saul Kavonic, menilai keputusan IEA menunjukkan betapa parahnya situasi saat ini. Pelepasan cadangan darurat dianggap sebagai sinyal perang kemungkinan besar tidak akan segera berakhir.

“Keputusan IEA juga memberi sinyal betapa akutnya risiko kekurangan minyak, menunjukkan IEA tidak yakin perang akan segera berakhir, dan penarikan stok sekarang perlu diganti nanti, menandakan harga yang lebih tinggi bahkan setelah perang berakhir,” ujar Saul Kavonic.

Ketidakpastian logistik mengenai seberapa cepat cadangan minyak mencapai pasar juga menambah kegelisahan investor. Beberapa ahli memperkirakan butuh waktu 60 hingga 90 hari sebelum minyak tersebut benar-benar tersedia secara efektif. Hal ini dianggap bukan bantuan instan yang diinginkan oleh para pelaku perdagangan.

Pavel Molchanov, Senior Investment Strategist di Raymond James, memberikan pandangannya mengenai besarnya gangguan pasokan saat ini. Ia menekankan perlunya respons yang sangat cepat untuk menstabilkan kondisi global.

“Empat ratus juta adalah angka yang besar,” kata Pavel Molchanov. Ia melanjutkan, “Namun ini merupakan gangguan pasokan minyak terbesar setidaknya sejak tahun 1970-an sehingga kita butuh banyak minyak, dan kita butuh dengan cepat.”

- Advertisement -

Artikel Terkait

Perang Iran Memanas, Kok Harga Emas Malah Ambles? Ini Penyebabnya!

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia mengalami penurunan lebih...

Laporan Perdana Bursa Kripto CFX: Transaksi Spot Februari Capai Rp24,33 Triliun

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Dinamika perdagangan aset kripto di...

Tensi Geopolitik Memanas, Harga Minyak Indonesia Februari 2026 Tembus USD 68,79 per Barel

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)  - Harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru