back to top

Kilang Kuwait Diserang dan Irak Force Majeure, Harga Minyak Dunia Melejit ke 112 USD

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak lebih dari 3% pada akhir perdagangan Jumat (20/3/2026) waktu setempat atau Sabtu pagi (21/3/2026) WIB. Kenaikan tajam ini dipicu oleh gangguan pasokan energi yang signifikan di kawasan Timur Tengah. Irak menyatakan keadaan kahar (force majeure) di seluruh ladang minyaknya dan kilang Kuwait terkena serangan drone.

Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Mei naik 3,54 USD atau 3,26%. Harga minyak acuan global ini ditutup pada level 112,19 USD per barel di London ICE Futures Exchange.

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April menguat 2,18 USD atau 2,27%. Minyak WTI berakhir pada posisi 98,32 USD per barel di New York Mercantile Exchange.

Irak mengumumkan keadaan kahar pada seluruh ladang minyak yang dikelola oleh perusahaan asing. Sumber di Kementerian Minyak Irak menyebut langkah ini diambil karena kegagalan pengiriman melalui Selat Hormuz. Lalu lintas kapal tanker di selat strategis tersebut merosot tajam akibat serangan Iran.

Situasi semakin memanas setelah serangan drone menghantam kilang Mina Al-Ahmadi dan Mina Abdullah di Kuwait pada Kamis lalu. Kuwait Petroleum Corporation melaporkan kebakaran terjadi di beberapa unit kilang Mina Al-Ahmadi. Fasilitas tersebut terpaksa ditutup sementara untuk tindakan pencegahan.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent berupaya meredam lonjakan harga energi tersebut. Washington berencana mencabut sanksi terhadap minyak mentah Iran yang tersimpan di kapal tanker. Langkah ini diharapkan mampu menambah pasokan di pasar global.

“Dalam beberapa hari mendatang, kami mungkin akan mencabut sanksi terhadap minyak Iran yang ada di perairan, sekitar 140 juta barel,” ujar Scott Bessent kepada Fox Business Network.

Ia menilai masuknya kembali minyak Iran akan membantu menahan kenaikan harga dalam 10 hingga 14 hari ke depan. Hal ini menjadi prioritas AS untuk mendinginkan biaya energi dunia.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan pihaknya turut membantu upaya AS membuka kembali Selat Hormuz. Ia menyebut Iran kini tidak lagi memiliki kemampuan memperkaya uranium atau memproduksi rudal balistik. Netanyahu memprediksi perang ini bisa berakhir lebih cepat dari perkiraan banyak pihak.

Citi merespons konflik ini dengan menaikkan perkiraan harga minyak jangka pendek. Bank tersebut memproyeksi harga Brent dan WTI naik ke level 120 USD per barel dalam satu hingga tiga bulan ke depan. Jika gangguan semakin intens, harga minyak dalam skenario terburuk bisa menyentuh 150 USD per barel.

Pejabat minyak Arab Saudi memberikan peringatan yang lebih mengkhawatirkan. Mereka memperkirakan harga bisa melambung hingga di atas 180 USD per barel. Kondisi ini diprediksi terjadi jika gangguan pasokan akibat perang terus berlanjut hingga akhir April.

Analis Matt Smith dari Kpler memberikan pandangan senada mengenai dampak penutupan jalur laut. Ia menyebut harga Brent berisiko melampaui 130 USD selama Selat Hormuz tetap tertutup. Saat ini, selisih harga antar jenis minyak mentah terus melebar akibat tingginya biaya pengiriman.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Investor Panik Jual! Harga Emas Ambles Hampir 10%, Rekor Terburuk Sejak 2011

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga emas dunia anjlok hampir...

Harga Emas dan Perak Terjun Bebas di Tengah Memanasnya Perang Iran

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga emas dan perak terjun...

Harga Minyak Dunia Gagal Bertahan di Level USD 119, Ternyata Ini Penyebabnya!

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia bergerak fluktuatif pada...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru