STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) melaporkan porsi kepemilikan saham publik (free float) sebesar 34,96% per akhir April 2026.
Berdasarkan laporan bulanan registrasi pemegang efek, jumlah saham yang dimiliki publik mencapai 4.857.920.313 lembar. Angka ini turun tipis dibandingkan posisi akhir Maret 2026 yang tercatat sebesar 35,24% atau sebanyak 4.896.376.213 lembar saham.
Pemegang saham terbesar BBTN masih PT Danantara Asset yang menguasai 8.336.459.982 lembar saham atau setara 59,4% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan.
Direktur Utama BBTN, Nixon L. P. Napitupulu, tercatat memiliki 5.399.000 lembar saham secara langsung. Jumlah tersebut setara dengan kurang dari 0,1% dari total saham perseroan. Nixon juga tercatat sebagai pemilik manfaat (beneficial owner) saham tersebut.
Selain Nixon, sejumlah anggota direksi lainnya juga memiliki saham BBTN. Nofry Rony Poetra memiliki 3.527.422 lembar saham, Setiyo Wibowo sebanyak 2.889.100 lembar, Eko Waluyo sebanyak 2.868.364 lembar, dan Hirwandi Gafar sebanyak 2.759.714 lembar saham.
Sementara itu, Oni Febriarto Rahardjo memiliki 1.149.100 lembar saham, sedangkan Tan Jacky Chen menggenggam 724.135 lembar saham.
Jumlah investor yang tercatat melalui Single Investor Identification (SID) juga menurun. Per akhir April 2026, jumlah pemegang saham BBTN tercatat sebanyak 46.764 SID, berkurang 3.129 SID dibandingkan posisi akhir Maret 2026 yang mencapai 49.893 SID.
Manajemen BBTN menyatakan perhitungan free float telah disusun sesuai dengan ketentuan Bursa Efek Indonesia. “Perhitungan free float telah disajikan sesuai dengan Peraturan Pencatatan Bursa Nomor I-A dan/atau I-V,” tulis manajemen perseroan dalam keterbukaan informasi, Minggu (10/5/2026).
Laporan tersebut disampaikan oleh Division Head Corporate Secretary BBTN, Ramon Armando.
Adapun jumlah total saham BBTN yang tercatat di Bursa Efek Indonesia per akhir April 2026 mencapai 13.894.099.968 lembar. Sementara itu, saham yang tidak tercatat berjumlah 140.344.445 lembar atau sekitar 1% dari total modal perseroan.
