Investor Panik Jual! Harga Emas Ambles Hampir 10%, Rekor Terburuk Sejak 2011

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga emas dunia anjlok hampir 10% sepanjang pekan ini. Penurunan tajam tersebut menjadi kinerja mingguan terburuk bagi logam mulia sejak September 2011. Investor mengkhawatirkan dampak ekonomi dari perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Mengutip CNBC International, kontrak berjangka emas turun 0,7% ke level 4.574,90 USD per ons pada penutupan perdagangan Jumat (20/3/2026) waktu setempat atau Sabtu pagi (21//3/2026) WIB. Harga si kuning ini jatuh 9,6% dalam sepekan terakhir. Pencapaian negatif ini menghapus keuntungan yang sempat diraih pada sesi pagi.

Logam mulia ini juga berada di jalur bulan terburuk sejak Oktober 2008. Meski merosot tajam, harga emas masih tercatat naik lebih dari 5% sepanjang tahun 2026. Hal ini menunjukkan penguatan harga yang sangat besar sebelum konflik meletus.

Kinerja buruk juga dialami oleh perak. Harga perak spot anjlok 6,8% ke posisi 67,932 USD per ons. Penurunan ini menyusul gejolak pasar pada sesi Kamis sebelumnya yang sempat menyeret harga logam mulia turun sekitar 3%.

Volatilitas pasar minyak terus memengaruhi sentimen investor global. Harga minyak sempat menembus 112 USD pada sesi perdagangan Jumat. Kondisi pasar modal AS juga ikut tertekan hingga menyeret indeks Dow Jones dan Nasdaq ke zona koreksi.

Ketegangan geopolitik belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak menginginkan adanya gencatan senjata dalam perang dengan Iran. Hal ini menambah ketidakpastian bagi pelaku pasar global.

Arthur Parish, analis ekuitas logam dan pertambangan di SP Angel, memberikan pandangannya. Ia menyebut volatilitas ekstrem terjadi karena reli panjang yang sempat terjadi sebelum serangan pertama AS-Israel ke Iran. Menurutnya, arus modal keluar dipicu oleh strategi perdagangan momentum yang mulai berbalik arah.

Arthur Parish mencatat banyak investor ritel dan pengelola dana lindung nilai masuk ke pasar emas saat harga melonjak pada 2025. “Uang tersebut tidak terikat pada penempatan posisi emas jangka panjang,” ujarnya.

Ia menambahkan para investor jangka pendek atau “investor turis” ini mulai meninggalkan pasar. Menurutnya, bank sentral tetap menjadi penggerak utama dalam siklus kenaikan harga emas jangka panjang. Kepergian investor ritel justru diperlukan agar emas bisa kembali merangkak naik di masa depan.

Sepanjang tahun 2025, emas dan perak sempat mencetak rekor kenaikan masing-masing sebesar 66% dan 135%. Namun, memasuki tahun 2026, perdagangan menjadi jauh lebih bergejolak. Perak bahkan sempat mengalami penurunan harian terbesar sejak tahun 1980 pada akhir Januari lalu.

Toni Meadows, kepala investasi di BRI Wealth Management, menilai harga logam mulia sangat bergantung pada permintaan harian. Selain itu, ada faktor tambahan berupa premi ketakutan dalam pembentukan harga.

Toni Meadows mengingatkan investor untuk tidak melihat emas sebagai alat pelindung jangka pendek. “Saya tidak akan melihatnya sebagai lindung nilai harian terhadap setiap pergerakan aset berisiko,” tegasnya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Harapan Damai AS-Iran Berhembus, Harga Emas Dunia Kembali Terkerek

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia kembali mencetak sejarah...

Tunggu Respons Damai Iran, Harga Minyak Dunia Tergelincir Tipis

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia merosot sekitar 1%...

Sentimen Damai AS-Iran Jadi Angin Segar, Harga Emas Dunia Terkerek Naik 2,7%

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga emas dunia menyentuh level...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru