STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia ditutup menguat pada akhir perdagangan Selasa (24/3/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (25/3/2026) WIB. Kenaikan ini terjadi seiring memudarnya optimisme pasar terhadap deeskalasi perang Iran. Pelaku pasar kini meragukan kemungkinan berakhirnya konflik di Timur Tengah dalam waktu dekat.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Mei melonjak lebih dari 4%. Harga minyak acuan internasional ini berakhir pada level USD 104,49 per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei juga terbang lebih dari 4%. Minyak WTI ditutup pada posisi USD 92,35 per barel, di New York Mercantile Exchange.
Loncatan harga ini menghapus sebagian kerugian besar pada sesi sebelumnya. Pada Senin lalu, harga Brent sempat anjlok sekitar 11% ke level USD 99 per barel. Padahal pada Jumat sebelumnya, harga minyak sempat melampaui USD 112 per barel.
Pelaku pasar energi kini tengah mencermati perkembangan terbaru terkait konflik Iran. Muncul keraguan besar terhadap klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump soal upaya perdamaian.
Trump sebelumnya memberikan pernyataan melalui akun Truth Social miliknya pada Senin malam. Ia mengaku telah menjalin komunikasi produktif dengan pihak Iran selama dua hari terakhir.
“SAYA SENANG MELAPORKAN AMERIKA SERIKAT, DAN NEGARA IRAN, SELAMA DUA HARI TERAKHIR, TELAH MELAKUKAN PERCAKAPAN YANG SANGAT BAIK DAN PRODUKTIF MENGENAI PENYELESAIAN LENGKAP DAN TOTAL DARI PERMUSUHAN KAMI DI TIMUR TENGAH,” tulis Trump.
Trump juga menyebut telah memerintahkan penundaan serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran. Penundaan tersebut rencananya berlaku selama lima hari.
“SAYA TELAH MENGINSTRUKSIKAN DEPARTEMEN PERANG UNTUK MENUNDA SETIAP DAN SEMUA SERANGAN MILITER TERHADAP PEMBANGKIT LISTRIK DAN INFRASTRUKTUR ENERGI IRAN UNTUK JANGKA WAKTU LIMA HARI,” tambah Trump.
Pernyataan Trump tersebut sempat membuat harga minyak turun dan pasar saham melonjak. Namun, pihak Iran membantah klaim tersebut. Hal ini memicu aksi beli kembali di pasar minyak pada hari Selasa.
José Torres, ekonom senior di Interactive Brokers, memberikan catatannya. Ia menilai risiko perang yang berkepanjangan tetap menjadi fokus utama pasar saat ini.
“Terlepas dari kegembiraan di Wall Street, bapak dan ibu sekalian, minyak berada jauh di atas level terendahnya setelah Teheran membantah melakukan negosiasi akhir pekan dengan Washington,” ujar Torres.
Torres menambahkan serangan berulang pada infrastruktur energi di Timur Tengah memicu kekhawatiran gangguan produksi. Investor khawatir masalah kapasitas dan transportasi akan menjaga biaya tetap tinggi.
“Selain itu, mengingat banyaknya serangan yang memengaruhi energi penting di Timur Tengah … ada kekhawatiran kemungkinan terjadi gangguan kapasitas dan transportasi yang membuat biaya tetap lebih tinggi dibandingkan awal tahun meskipun ada kesepakatan,” tulis Torres.
Situasi di Selat Hormuz juga menjadi perhatian serius. Jalur ini menangani sekitar 20% pasokan minyak dunia melalui laut sebelum perang pecah. Saat ini, Iran hampir sepenuhnya menghentikan aliran minyak melalui jalur vital tersebut.
Media pemerintah Iran sempat menyatakan Teheran akan mengizinkan transit yang aman di selat tersebut. Namun, kebijakan ini tidak berlaku bagi kapal-kapal yang terkait dengan pihak yang mereka anggap musuh.
Max Layton dari Citi memberikan prediksi mengenai arah harga minyak ke depan. Ia memperkirakan harga Brent masih berpotensi terus merangkak naik dalam jangka pendek.
“Kasus dasar kami adalah Brent akan naik hingga USD 120 selama beberapa minggu ke depan,” kata Layton.
