Perang Iran Berlarut, Bursa Saham Eropa Cetak Kinerja Bulanan Terburuk Sejak 2022

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup menguat pada akhir perdagangan Selasa (31/3/2026) waktu setempat. Meski menghijau di akhir bulan, bursa kawasan ini mencatatkan kinerja bulanan terburuk dalam enam tahun terakhir. Ketidakpastian mengenai arah perang Iran masih terus membayangi pergerakan pasar.

Mengutip CNBC International, indeks Stoxx Europe 600 yang berisi saham-saham utama di Eropa berakhir naik 0,43% ke posisi 583,14. Sepanjang Maret, indeks ini merosot 7,99%. Angka tersebut menjadi kerugian bulanan terbesar bagi bursa Eropa sejak pertengahan 2022.

Hampir semua bursa utama dan sebagian besar sektor regional berakhir di zona hijau pada hari tersebut. Indeks CAC 40 Perancis naik 0,57% ke level 7.816,94. FTSE MIB Italia melonjak 1,11% ke posisi 44.309,71.

Indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,48% ke level 10.176,45. DAX Jerman tumbuh 0,52% ke posisi 22.680,04. Sementara itu, IBEX 35 Spanyol meningkat 0,47% ke level 17.049,60.

Kenaikan inflasi di zona euro turut menekan sentimen pasar. Data awal Eurostat menunjukkan inflasi melonjak menjadi 2,5% pada Maret dari sebelumnya 1,9% di bulan Februari. Angka ini berada jauh di atas target 2% Bank Sentral Eropa akibat lonjakan harga energi global.

Investor juga mencermati laporan Wall Street Journal (WSJ) mengenai sikap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Trump menyampaikan kepada para pembantunya terkait kesediaan mengakhiri permusuhan militer terhadap Iran. Rencana ini tetap akan diambil meskipun Selat Hormuz masih dalam kondisi tertutup.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan tujuan Washington di Iran dapat dicapai dalam hitungan minggu. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara dengan Al Jazeera yang dipublikasikan Senin lalu.

“Tujuan-tujuan tersebut adalah penghancuran angkatan udara mereka, yang telah tercapai; penghancuran angkatan laut mereka, yang sebagian besar telah tercapai; pengurangan signifikan dalam jumlah peluncur rudal yang mereka miliki, yang sedang dalam proses pencapaian; dan kami akan menghancurkan pabrik-pabrik yang membuat rudal-rudal tersebut dan drone-drone yang mereka gunakan untuk menyerang tetangga mereka serta Amerika Serikat dan kehadiran kami di kawasan ini,” ujar Rubio.

Di sisi korporasi, raksasa barang konsumsi Unilever mengumumkan pembicaraan lanjutan untuk merger bisnis pangannya dengan produsen rempah asal AS, McCormick. Transaksi ini diharapkan dapat rampung dalam waktu dekat.

“Jika transaksi dilanjutkan, saat ini direncanakan akan melibatkan … komponen tunai di muka sekitar USD 15,7 miliar dan mayoritas pertimbangan dalam ekuitas McCormick,” ungkap pihak Unilever. Saham Unilever ditutup anjlok lebih dari 7% setelah pengumuman tersebut.

Sementara itu, Novo Nordisk meluncurkan program berlangganan untuk obat obesitas Wegovy. Langkah ini dilakukan untuk mempertahankan pangsa pasar dari pesaingnya, Eli Lilly. Perusahaan berupaya memastikan pasien mendapatkan harga bulanan yang lebih rendah dan dapat diprediksi.

Novo Nordisk saat ini hanya menguasai sekitar 40% pasar obat penurun berat badan. Pesaingnya, Eli Lilly, memimpin dengan pangsa pasar 60%. Saham Novo Nordisk berakhir turun tipis 0,1% pada penutupan perdagangan.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Harapan Damai Perang Iran Muncul, Indeks Dow Jones Melejit 1.100 Poin

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Trump Ingin Akhiri Perang Iran, Bursa Saham Asia Mayoritas Melemah

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Mayoritas bursa saham di kawasan Asia-Pasifik...

Wall Street Mixed Usai Powell Bahas Inflasi dan Trump Bicara Iran

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru