STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau Wall Street berakhir bervariasi pada penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026) waktu setempat atau Rabu (8/4/2026). Para pemodal mengamati tanda-tanda kemajuan negosiasi. Hal ini terjadi menjelang batas waktu dari Presiden Donald Trump agar Iran membuka Selat Hormuz.
Mengutip data Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) melemah 85,42 poin atau 0,18% ke posisi 46.584,46. Sebaliknya, indeks S&P 500 naik 5,02 poin atau 0,08% menjadi 6.616,85. Indeks komposit Nasdaq juga menguat 21,51 poin atau 0,10% ke level 22.017,85.
Ketiga indeks utama Wall Street sempat anjlok pada awal sesi. Namun, posisi indeks membaik pada jam terakhir perdagangan. Pemulihan terjadi setelah Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, memberikan pernyataan di media sosial X. Sharif menyebut upaya damai di Timur Tengah terus berjalan.
Sharif meminta Trump memperpanjang batas waktu untuk Iran selama dua minggu. Ia juga memohon Iran membuka Selat Hormuz dalam jangka waktu yang sama. Langkah tersebut diusulkan sebagai bentuk niat baik.
Matthew Keator, Managing Partner di Keator Group, memberikan pandangannya terkait situasi pasar. Investor saat ini tengah membaca arah kebijakan Trump.
“Investor sedang melakukan penyesuaian saat mencoba membaca pesan presiden. Mereka juga memprediksi sejauh mana ia akan menindaklanjuti beberapa retorikanya terkait ultimatum tersebut. Seberapa banyak dari hal itu merupakan bentuk gertakan, dan seberapa banyak hal tersebut menyiratkan apa yang sebenarnya akan ia lakukan?” kata Keator kepada Reuters.
Dari pasar komoditas, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik tipis 0,5%. Sebaliknya, minyak Brent justru turun 0,5%. Ketegangan geopolitik ini memicu kekhawatiran lonjakan inflasi. Kondisi tersebut bisa menunda pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS.
Di sisi lain, pergerakan saham individu cukup bervariasi. Sektor asuransi kesehatan melonjak tajam. Saham UnitedHealth melompat 9,4%. Saham kompetitornya, Humana dan CVS Health, masing-masing terkerek 7,9% dan 6,7%. Lompatan ini terjadi usai pemerintah AS menaikkan pembayaran bagi penyedia asuransi swasta.
Nasib berbeda dialami raksasa teknologi Apple. Saham Apple merosot 2,1%. Penurunan ini terjadi usai adanya laporan terkait proyek ponsel lipat mereka yang mengalami hambatan teknis.
Sebaliknya, saham pembuat cip Broadcom melesat 6,2%. Penguatan terjadi berkat kesepakatan jangka panjang dengan Alphabet untuk pengembangan cip kecerdasan buatan (AI). Saham Intel juga terkerek 4,2% setelah mengumumkan keikutsertaan dalam proyek cip AI milik Elon Musk.
