STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak lebih dari 4% pada akhir perdagangan Senin (13/4/2026) waktu setempat atau Selasa pagi (14/4/2026) WIB. Kenaikan ini membawa harga minyak mendekati level 100 USD per barel. Kegagalan pembicaraan damai dan dimulainya blokade pelabuhan Iran oleh Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) menjadi pemicu utamanya.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni naik lebih dari 4%. Harga minyak acuan global ini ditutup pada level 99,36 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei naik lebih dari 2%. Minyak WTI berakhir pada posisi 99,08 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.
Angkatan Laut AS mulai memberlakukan blokade penuh terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah ini mulai berlaku pada Senin pukul 10.00 waktu setempat.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan operasi ini tidak akan mengganggu kapal yang menuju pelabuhan non-Iran. Aturan ketat akan tetap diterapkan bagi seluruh kapal tanpa kecuali.
“Blokade akan ditegakkan secara tidak memihak terhadap kapal-kapal dari semua negara yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk semua pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman,” tulis pihak CENTCOM dalam pernyataan resminya.
Presiden AS Donald Trump memerintahkan langsung blokade tersebut. Keputusan ini keluar setelah perundingan damai di Pakistan gagal mencapai kesepakatan pada akhir pekan lalu.
Trump juga mengancam akan menghancurkan kapal militer Iran. Ancaman berlaku jika kapal tersebut mendekati area blokade.
Trump memerintahkan pencarian kapal di perairan internasional. Khususnya kapal yang terbukti membayar tol ke Iran untuk melewati Selat Hormuz. Jalur laut sempit ini merupakan urat nadi vital bagi pasar energi global.
Pihak militer Iran tidak tinggal diam menghadapi aksi AS. Mereka mengancam pelabuhan-pelabuhan di seluruh Teluk Persia sebagai bentuk balasan.
Lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz merosot tajam akibat ancaman serangan Iran. Kondisi ini memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah. Sebelumnya, sekitar 20% pasokan minyak global melewati jalur tersebut.
Kelanjutan serangan udara AS ke Iran belum dapat dipastikan. Trump sempat menyetujui gencatan senjata dua minggu dengan syarat Iran membuka jalur kapal. Media The Wall Street Journal melaporkan Trump tengah mempertimbangkan serangan terbatas guna memecah kebuntuan.
Pihak Teheran menegaskan kendali penuh atas wilayah tersebut. Ali Akbar Velayati, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei, memberikan komentarnya.
“Kunci Selat Hormuz tetap berada di tangan Republik Islam,” ujar Ali Akbar Velayati melalui kantor berita negara Press TV.
Wakil Presiden AS JD Vance memimpin delegasi AS dalam negosiasi tersebut. Ia menyebut pembicaraan gagal karena ketidakpastian sikap Iran terkait program senjata nuklir.
“Pertanyaan sederhananya adalah, apakah kita melihat komitmen fundamental dari kehendak Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir? Kita belum melihat itu; kita berharap kita akan melihatnya,” ungkap JD Vance kepada wartawan di Islamabad.
Ketua Parlemen Iran Mohammad-Bagher Ghalibaf turut angkat bicara. Menurutnya, AS gagal mendapatkan kepercayaan dari delegasi Iran dalam putaran perundingan kali ini.
Malcolm Melville, seorang manajer dana komoditas di Schroders, memberikan pandangannya. Pasar minyak masih menunggu pembuktian kelancaran arus pengiriman.
“Volume kapal yang melewati Selat perlu melonjak dalam dua minggu ke depan agar pasar minyak yakin krisis telah berakhir,” kata Malcolm Melville.
“Jika jumlah kapal melonjak hingga 75% dari tingkat sebelum perang, maka itu mewakili normalisasi arus yang hampir terjadi, mengingat penggunaan pipa saat ini yang sebelumnya tidak berjalan pada kapasitas penuh,” tambahnya.
