STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia bergerak stabil pada akhir perdagangan Rabu (15/4/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (16/4/2026) WIB. Pelaku pasar semakin optimistis terhadap solusi diplomatik untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Kondisi ini terjadi setelah harga minyak sempat anjlok tajam pada sesi sebelumnya.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei ditutup hampir tidak berubah di level 91,29 USD per barel. Sebelumnya pada perdagangan Selasa, harga WTI sempat jatuh hampir 8%. Penurunan tajam itu dipicu harapan pembicaraan AS-Iran akan membuahkan hasil.
Sementara itu, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juni menetap 14 sen lebih tinggi. Harga minyak acuan internasional ini berada di posisi 94,93 USD per barel di London ICE Futures Exchange.
Para investor merespons positif kemungkinan dimulainya kembali pembicaraan damai antara Washington dan Teheran. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut perang tersebut sudah sangat dekat untuk berakhir. Trump optimistis pasar saham akan melonjak saat konflik usai.
Dalam sebuah wawancara dengan Fox Business pada Rabu, Trump memberikan sinyal kuat mengenai akhir konflik. Ia juga mengatakan kepada New York Post kemungkinan pertemuan dengan Iran. Lokasi pembicaraan kabarnya berlangsung di Islamabad, Pakistan dalam dua hari ke depan.
Awalnya Trump mengindikasikan negosiasi akan berjalan lambat di Eropa. Namun ia segera memberikan rincian terbaru mengenai rencana tersebut. Dorongan pembicaraan ini muncul menjelang berakhirnya masa gencatan senjata selama dua minggu.
Badan Energi Internasional (IEA) merilis laporan terbaru terkait situasi pasokan energi. Lembaga ini menyoroti pentingnya akses jalur perdagangan minyak dunia di tengah konflik.
“Memulihkan aliran melalui Selat Hormuz tetap menjadi variabel tunggal terpenting dalam meredakan tekanan pada pasokan energi, harga, dan ekonomi global,” tulis IEA dalam laporan yang terbit Selasa.
Goldman Sachs mencatat aliran minyak melalui Selat Hormuz masih sangat terbatas. Saat ini jumlahnya hanya sekitar 10% dari level normal. Aliran tersebut mencapai rata-rata 2,1 juta barel per hari berdasarkan rata-rata pergerakan empat hari.
Blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran memberikan tekanan tambahan bagi arus pengiriman. Washington melaporkan beberapa kapal telah berputar arah dalam 24 jam pertama. Meskipun demikian, pengiriman melalui pelabuhan non-Iran tetap berlanjut.
Di sisi lain, Goldman Sachs menilai gangguan produksi minyak di Timur Tengah tidak separah kekhawatiran awal. Estimasi rata-rata penutupan produksi di Teluk Persia mencapai 8 juta barel per hari pada Maret.
Angka ini lebih rendah dari perkiraan IEA yang mencapai 10 juta barel per hari. Hal ini disebabkan oleh penggunaan fasilitas penyimpanan yang lebih tinggi. Minyak yang disimpan di dalam kapal tanker juga membantu menjaga keseimbangan pasokan di pasar internasional.
