spot_img

Pernyataan Trump Berubah-ubah, Harga Minyak Dunia Terkoreksi Tipis

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia bergerak turun tipis pada akhir perdagangan Selasa (19/5/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (20/5/2026) WIB. Investor tengah menimbang sinyal beragam dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait kelanjutan serangan militer ke Iran.

Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli turun 0,73%. Harga minyak acuan global ini ditutup pada level USD 111,28 per barel di London ICE Futures Europe.

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) jatuh 0,82%. Minyak WTI berakhir pada posisi USD 107,77 per barel di New York City New York Mercantile Exchange.

Meski mengalami penurunan, harga si emas hitam masih bertahan jauh di atas level USD 100 per barel. Pelaku pasar terlihat sangat berhati-hati merespons pernyataan terbaru dari Gedung Putih.

Trump memberikan pernyataan kontradiktif kepada wartawan pada hari Selasa. Ia menyebut AS mungkin harus memberikan “pukulan besar lainnya” kepada Iran jika kesepakatan damai tidak segera tercapai.

Ancaman ini muncul justru setelah ia membatalkan serangan militer yang seharusnya dilakukan pada hari Selasa. Penundaan serangan tersebut merupakan permintaan dari Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Para pemimpin negara Teluk Arab tersebut meminta waktu tambahan untuk proses negosiasi. Trump menegaskan Iran hanya memiliki periode waktu yang terbatas untuk menyetujui kesepakatan.

Menurut Trump, Teheran memiliki waktu sekitar dua atau tiga hari ke depan. Batas waktu tersebut kemungkinan jatuh pada hari Jumat, Sabtu, Minggu, atau awal pekan depan.

Ketegangan di lapangan juga terus meningkat dengan adanya aksi penyitaan aset. Pejabat AS melaporkan telah menyita sebuah kapal tanker minyak yang terkait dengan Iran di Samudra Hindia semalam.

Pergerakan harga minyak belakangan ini memang sangat fluktuatif akibat perang. Sejak konflik Iran dimulai pada 28 Februari lalu, harga Brent dan WTI telah melonjak lebih dari 50%.

Daan Struyven, Head of Oil Research di Goldman Sachs, memberikan analisanya mengenai dampak penutupan jalur distribusi. Ia menyoroti pentingnya pembukaan kembali Selat Hormuz bagi stabilitas harga.

“Setiap bulan penundaan dalam menormalkan pasokan minyak menambah 10 USD pada harga minyak akhir tahun,” ujar Struyven dalam sebuah wawancara.

Di sisi lain, ING Group mencatat pasar masih memperhitungkan risiko gangguan pasokan yang terus berlanjut di Timur Tengah. Harapan agar China membantu menengahi kemajuan dalam pembicaraan Trump dan Xi Jinping juga belum membuahkan hasil.

Beberapa aktivitas pelayaran di Selat Hormuz memang dilaporkan mulai berlanjut secara terbatas. Hal ini terlihat dari beberapa tanker minyak mentah dan pengiriman minyak Irak tujuan Vietnam yang mulai melintas.

Namun, volume aliran minyak tersebut masih berada jauh di bawah level normal. Analis ING memperingatkan situasi keamanan di jalur laut tersebut dapat memburuk kembali dalam waktu singkat.

Kondisi gangguan pasokan ini memaksa pasar untuk mencari sumber alternatif. Stok cadangan minyak yang ada saat ini menjadi tumpuan utama untuk memenuhi permintaan global.

“Gangguan pasokan yang terus berlanjut berarti pasar sebagian besar harus bergantung pada inventaris dan pasokan alternatif, jika memungkinkan,” tulis para analis ING.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Harga Emas Dunia Anjlok 2%, Pasar Menanti Sinyal Penting dari The Fed

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia mengalami tekanan besar...

Emas Dunia Merangkak Naik Saat Dolar AS Melemah, Investor Pantau Dampak Perang Iran

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia menguat tipis pada...

Trump Tunda Serangan ke Iran, Harga Minyak Dunia Tetap Parkir di Zona Hijau

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia tetap bertengger di...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru