STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Pendapatan PT Bhuwanatala Indah Permai Tbk (BIPP) terctat sebesar Rp36,56 miliar sepanjang triwulan I 2026. Hasil ini turun 42,2% dibandingkan pendapatan BIPP di triwulan I 2025 yang mencapai Rp63,27 miliar. Penyebabnya adalah penurunan pendapatan BIPP di bidang real estat, sewa kantor, mal, dan padel sepanjang kuartal I 2026.
Dalam laporan keuangan BIPP per Maret 2026, dikutip Selasa (02/6/2026), terungkap beban langsung turun 34,83% dari Rp37,44 miliar menjadi Rp24,40 miliar. Meski begitu, laba kotor BIPP terpangkas sekitar 53%, dari Rp25,83 miliar menjadi Rp12,16 miliar di kuartal I 2026.
Di tengah penurunan pendapatan, beban usaha BIPP naik sekitar 2%, dari Rp13,51 miliar menjadi Rp13,77 miliar per MAret 2026. Akibatnya, BIPP mencatat rugi usaha Rp1,61 miliar per Maret 2026. Padahal di periode yang sama tahun lalu, BIPP masih mencatat laba usaha Rp12,32 miliar.
Selain itu, jumlah beban lain-lain bersih meningkat 28,8% dari Rp14,93 miliar menjadi Rp19,23 miliar. Beban ini terutama berasal dari kenaikan beban keuangan, kenaikan beban pajak, lain-lain bersih dan penurunan pendapatan keuangan bersih di triwulan I 2026. Akibatnya, rugi sebelum pajak BIPP meningkat sebesar 698,47%, dari Rp2,61 miliar per Maret 2025 menjadi Rp20,84 miliar per Maret 2026.
Emiten bidang pengembangan dan pengelolaan properti termasuk ruang perkantoran, apartemen, pusat perbelanjaan, dan perumahan ini mencatat rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp16,16 miliar (Rp3,21 per saham) per Maret 2026, meningkat sebesar 254,38% dibandingkan sebesar Rp4,56 miliar (Rp0,91 per saham) per Maret 2025.
Sementara itu, aset BIPP turun tipis dari Rp1,82 triliun per 31 Desember 2025 menjadi Rp1,81 triliun per 31 Maret 2026. Jumlah liabilitas BIPP naik dari Rp830,56 miliar menjadi Rp847,08 miliar. Ekuitas bersih BIPP turun dari Rp992,19 miliar per 31 Desember 2025 menjadi Rp969,32 miliar per 31 Maret 2026.

