spot_img

Stock Futures AS Turun, Netflix dan Saham Chip Tekan Wall Street

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (stock futures) saham Amerika Serikat bergerak melemah pada perdagangan Jumat (17/7/2026) waktu setempat. Pelemahan ini terjadi setelah Wall Street mengalami tekanan akibat penurunan saham sektor semikonduktor dan investor mencermati laporan keuangan emiten kuartal II-2026.

Mengutip CNBC, futures Dow Jones Industrial Average turun 62 poin atau sekitar 0,1%. Sementara itu, futures S&P 500 melemah 0,2% dan futures Nasdaq-100 terkoreksi 0,3%.

Sentimen negatif juga datang dari saham Netflix. Saham perusahaan layanan streaming tersebut anjlok lebih dari 8% setelah laporan kinerja kuartal II-2026 hanya sejalan dengan ekspektasi analis.

Pada perdagangan sebelumnya, indeks-indeks utama Wall Street ditutup di zona merah. Indeks S&P 500 turun 0,5%, sedangkan Nasdaq Composite merosot 1,5%.

Adapun indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 105,67 poin atau sekitar 0,2%.

Tekanan terbesar berasal dari sektor semikonduktor. ETF VanEck Semiconductor (SMH) merosot hampir 4% setelah saham Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC) turun lebih dari 2% menyusul laporan keuangan kuartal II yang beragam.

Meski laba TSMC meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, perusahaan juga menaikkan proyeksi belanja modal sepanjang tahun ini.

Pelemahan juga terjadi pada saham Marvell Technology, STMicroelectronics, dan Micron Technology yang ikut mengikuti penurunan TSMC.

Penurunan pada Kamis membuat ETF SMH terkoreksi 6,9% sepanjang pekan ini. Ini menjadi penurunan mingguan ketiga dalam empat pekan terakhir.

Secara mingguan, indeks-indeks utama Wall Street juga masih mencatatkan kinerja negatif. S&P 500 turun 0,6%, sedangkan Dow Jones melemah 0,2%. Nasdaq mencatat koreksi paling dalam dengan penurunan mencapai 1,5%.

Meski perdagangan saham berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), terutama sektor chip, mengalami gejolak, indeks S&P 500 masih berada sekitar 1% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa yang dicapai pada awal Juni 2026.

Chief U.S. Strategist Ned Davis Research, Ed Clissold, menilai kondisi pasar saat ini belum menunjukkan tanda-tanda puncak pasar bullish.

“Fakta jika pasar tidak mengalami kejatuhan menunjukkan ini kemungkinan bukan puncak besar pasar bullish,” ujar Clissold kepada CNBC dalam program Closing Bell.

Menurut dia, perlambatan ekonomi Amerika Serikat kemungkinan hanya bersifat terbatas dalam jangka pendek.

“Saya akan lebih khawatir jika Russell 2000 mengalami kinerja yang jauh lebih buruk dalam beberapa pekan terakhir,” kata Clissold.

Ia juga menilai risiko resesi masih relatif kecil. Menurutnya, fase konsolidasi pasar dapat membantu mengurangi valuasi berlebihan pada beberapa sektor saham.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Harga Emas Dunia Terkoreksi 1,7% Tersengat Spekulasi Suku Bunga AS

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia melemah pada perdagangan...

Harga Minyak Dunia Turun 1%, Namun Bertahan Dekati Level Tertinggi Sebulan

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melemah sekitar 1%...

Stock Futures Menguat, Wall Street Ditopang Big Tech dan Inflasi AS yang Melandai

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) - Kontrak berjangka saham Amerika Serikat...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru