spot_img

Stock Futures Menguat, Wall Street Ditopang Big Tech dan Inflasi AS yang Melandai

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka saham Amerika Serikat (stock futures) bergerak positif setelah Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Rabu (15/7/2026).  Sentimen pasar ditopang penguatan saham-saham teknologi raksasa serta data inflasi Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan tanda-tanda perlambatan.

Mengutip CNBC, indeks S&P 500 naik 0,38% dan ditutup di level 7.572,40. Indeks Nasdaq Composite menguat 0,62% ke posisi 26.269,23. Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average bertambah 150,37 poin atau 0,29% menjadi 52.658,64.

Penguatan pasar didorong kenaikan saham perusahaan teknologi berkapitalisasi besar. Saham Amazon dan Alphabet masing-masing naik sekitar 3%. Saham Microsoft menguat hampir 3%. Sementara itu, saham Apple melonjak 4% dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.

Di sisi lain, investor mulai mengurangi eksposur pada saham-saham semikonduktor.  Saham Micron Technology turun 8%. Saham Lam Research dan Advanced Micro Devices (AMD) masing-masing melemah sekitar 3%. Saham Intel juga terkoreksi lebih dari 4%. Adapun VanEck Semiconductor ETF (SMH) turun lebih dari 1%.

Pelaku pasar juga mencermati perkembangan inflasi di AS. Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, menyampaikan optimisme terhadap arah inflasi ke depan.

“Kami memiliki alasan yang menggembirakan untuk memperkirakan inflasi telah mencapai puncaknya dan akan bergerak turun pada kuartal-kuartal mendatang,” kata Williams.

Data terbaru menunjukkan indeks harga produsen atau Producer Price Index (PPI) AS turun 0,3% pada Juni 2026. Angka ini lebih rendah dari perkiraan ekonom yang sebelumnya memperkirakan PPI tidak berubah dibanding bulan sebelumnya.

Secara tahunan, tingkat inflasi produsen tercatat sebesar 5,5%. Kondisi tersebut memperkuat harapan pasar jika Federal Reserve tidak perlu menaikkan suku bunga secara agresif pada tahun ini.

Namun, Kepala Riset Keputusan Investasi Global SimCorp, Melissa Brown, menilai pasar masih terlalu cepat merespons setiap data ekonomi yang dirilis.

“Saya tidak yakin data ini menghilangkan kemungkinan kenaikan suku bunga, karena jika target inflasi benar-benar 2%, angka inflasi saat ini masih jauh di atas level tersebut,” ujar Brown.

Ia menambahkan, “Pasar saat ini mungkin bereaksi berlebihan terhadap satu berita, baik ke arah positif maupun negatif.”

Laporan PPI tersebut menyusul data indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) yang dirilis sehari sebelumnya dan menunjukkan inflasi lebih rendah dari perkiraan.

Menurut data CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Federal Reserve bulan Juli telah menurun dalam beberapa hari terakhir. Meski demikian, pelaku pasar masih memperhitungkan adanya kenaikan suku bunga pada akhir tahun ini.

Pasar saat ini memberikan peluang hampir 60% bagi kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga 50 basis poin pada akhir pertemuan The Fed pada Oktober mendatan

- Advertisement -

Artikel Terkait

Harga Emas Dunia Turun Tipis, Tertolong Penurunan Inflasi AS

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia ditutup sedikit melemah...

AS Serang dan Blokade Pelabuhan Iran, Harga Minyak Dunia Bergeming

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia tidak banyak berubah...

Inflasi AS Melandai, Stock Futures Bergerak Datar Jelang Rilis Laporan Keuangan Emiten

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Stock futures Amerika Serikat bergerak...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru