spot_img

Harga Minyak Dunia Turun 1%, Namun Bertahan Dekati Level Tertinggi Sebulan

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melemah sekitar 1% pada akhir perdagangan Kamis (16/7/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (17/7/2026) WIB. Meski turun, harga minyak masih bertahan di dekat level tertinggi dalam lebih dari satu bulan terakhir di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Mengutip CNBC, harga minyak mentah Brent turun 0,72 USD atau 0,85% menjadi 84,23 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,65 USD atau 0,82%. Minyak WTI ditutup pada level 78,95 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.

Sebelumnya, pada perdagangan Rabu (15/7/2026), harga Brent mencatat posisi tertinggi sejak 12 Juni 2026. Sementara itu, harga WTI mencapai level tertinggi sejak 15 Juni 2026.

Kenaikan ketegangan geopolitik menjadi faktor utama yang menopang harga minyak. Iran dilaporkan meminta kelompok Houthi di Yaman bersiap menutup jalur ekspor minyak melalui Laut Merah jika Amerika Serikat menyerang infrastruktur kelistrikan Iran.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada pekan ini kembali mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan di Iran.

Direktur Strategi Pasar Energi StoneX, Alex Hodes, mengatakan ancaman tersebut meningkatkan risiko terganggunya dua jalur ekspor energi utama di Timur Tengah secara bersamaan.

“Dengan Selat Hormuz yang sudah ditutup, ancaman ini meningkatkan risiko serius terganggunya dua jalur ekspor minyak utama di Timur Tengah pada saat yang sama,” ujar Hodes.

Data Kpler menunjukkan total volume minyak yang melewati Bab el-Mandeb mencapai 7,4 juta barel per hari pada Juni 2026. Angka tersebut setara sekitar 7% produksi minyak global dan meningkat dibandingkan 4,2 juta barel per hari pada tahun lalu.

Pimpinan Strategi Pasar Keuangan Exness, Wael Makarem, menilai gangguan serentak di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb dapat memperburuk tekanan terhadap rantai pasok energi dunia.

“Gangguan yang terjadi secara bersamaan di Hormuz dan Bab el-Mandeb akan memperbesar tekanan rantai pasok, meningkatkan keterbatasan ketersediaan kapal tanker, dan mendorong kenaikan premi asuransi,” kata Makarem.

Pada Rabu (15/7/2026), Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sistem pertahanan pantai dan lokasi rudal Iran setelah kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Iran. Teheran kemudian mengancam akan menghentikan ekspor energi regional dan menyebut konflik tersebut sebagai “perang eksistensial” melawan Amerika Serikat.

Gencatan senjata yang sempat tercapai pada Juni 2026 kini dilaporkan runtuh. Kondisi tersebut mengganggu arus energi melalui Selat Hormuz yang sebelumnya menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia setiap harinya.

Data menunjukkan hanya tujuh kapal yang melintas di Selat Hormuz pada Rabu, turun dari 13 kapal sehari sebelumnya.

“Penurunan jumlah kapal yang melintas kemungkinan tidak akan berubah selama ketegangan belum mereda,” ujar Hodes.

Iran dan Amerika Serikat juga kembali saling melancarkan serangan pada Kamis (16/7/2026). Situasi ini tetap memberikan tekanan naik terhadap harga minyak.

Namun, sentimen pasar sedikit tertahan setelah Iran membebaskan seorang warga negara Amerika Serikat. Langkah tersebut dinilai dapat membuka peluang untuk mencegah pecahnya perang berskala penuh.

Di sisi pasokan, ekspor minyak mentah Irak meningkat signifikan. Data Kpler dan sumber yang mengetahui arus pengiriman menunjukkan pemuatan minyak Irak lebih dari dua kali lipat menjadi rata-rata sekitar 1,2 juta barel per hari pada paruh pertama Juli 2026 setelah sebelumnya mengalami pembatasan pengiriman selama beberapa bulan.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Stock Futures AS Turun, Netflix dan Saham Chip Tekan Wall Street

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (stock futures) saham...

Harga Emas Dunia Terkoreksi 1,7% Tersengat Spekulasi Suku Bunga AS

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia melemah pada perdagangan...

Stock Futures Menguat, Wall Street Ditopang Big Tech dan Inflasi AS yang Melandai

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) - Kontrak berjangka saham Amerika Serikat...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru