STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Transjakarta mencatat sejarah baru dengan melayani 1,5 juta pelanggan per hari pada Juni 2026. Capaian tersebut menjadikan sistem Bus Rapid Transit (BRT) pertama di Asia Tenggara itu semakin memperkuat posisinya sebagai tulang punggung transportasi publik di DKI Jakarta.
Berdasarkan data PT Transportasi Jakarta, sepanjang 2025, Transjakarta melayani 413 juta pelanggan dengan cakupan layanan mencapai 92,4% dari total populasi Jakarta. Di saat yang sama, angka kecelakaan operasional berhasil ditekan hingga 40% dibandingkan tahun 2022.
Saat ini, Transjakarta mengoperasikan 5.227 armada, termasuk 2.978 unit Mikrotrans. Armada tersebut melayani 233 rute yang mencakup koridor BRT sepanjang 409 kilometer dan rute pengumpan sepanjang 2.326 kilometer. Layanan tersebut didukung oleh 245 halte BRT dan 7.346 titik pemberhentian bus yang tersebar di berbagai wilayah Jakarta.
Mayoritas pelanggan menggunakan layanan BRT dan Non-BRT dengan total 207,76 juta pelanggan atau setara 50,55% dari total pengguna pada 2025. Posisi berikutnya ditempati layanan Mikrotrans sebanyak 181,69 juta pelanggan atau 44,12%, serta Transjabodetabek sebanyak 21,62 juta pelanggan atau 5,33%.
Di sisi lain, jumlah pengguna Kartu Layanan Gratis (KLG) terus meningkat. Pada 2025, jumlahnya mencapai 25 juta pelanggan atau naik 2,3 kali lipat dalam dua tahun terakhir. Kontribusinya kini mencapai 6% dari total ridership Transjakarta.
Untuk mendukung mobilitas masyarakat, Transjakarta menerapkan enam skema tarif. Tarif ekonomis sebesar Rp2.000 berlaku pukul 05.00-07.00 WIB, sedangkan tarif reguler Rp3.500 berlaku selama 22 jam berikutnya. Tarif Mikrotrans tetap Rp0.
Selain itu, terdapat tarif intermoda sebesar Rp5.000 dan tarif integrasi antarmoda Transjakarta, MRT Jakarta dan LRT Jakarta dengan plafon maksimal Rp10.000. Tarif Rp0 juga diberikan kepada 15 kelompok masyarakat penerima layanan gratis. Sementara tarif Transjabodetabek dan Transjabodetabek Bandara tetap Rp3.500.
Perjalanan Transjakarta dimulai pada 2004 dengan melayani sekitar 40 ribu pelanggan per hari di Koridor 1. Setelah transformasi kelembagaan melalui pembentukan PT Transportasi Jakarta, jumlah pelanggan meningkat menjadi 300 ribu orang per hari.
Pada Februari 2020, Transjakarta sempat mencetak rekor melayani 1 juta pelanggan per hari. Namun pandemi COVID-19 membuat jumlah penumpang turun drastis menjadi 83 ribu pelanggan per hari pada Maret 2020.
Pemulihan kemudian terjadi secara bertahap. Pada September 2024, jumlah pelanggan kembali mencapai 1,3 juta orang per hari. Puncaknya, pada Juni 2026, jumlah pelanggan menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah sebesar 1,5 juta pelanggan per hari.
Akademisi Program Studi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai pencapaian tersebut menunjukkan keberhasilan pengembangan sistem transportasi publik di Jakarta.
“Secara keseluruhan, pencapaian rekor keterangkutan 1,5 juta pelanggan per hari serta pemenuhan Standar Pelayanan Minimum (SPM) yang terus membaik mengukuhkan Transjakarta sebagai tulang punggung mobilitas DKI Jakarta,” ujar Djoko dikutip Jumat (17/7/2026).
Transjakarta juga terus melakukan modernisasi layanan. Saat ini, operator tersebut telah mengoperasikan sekitar 500 armada bus listrik dan memiliki sembilan kerja sama hak penamaan halte (naming rights), antara lain Bundaran HI Astra, Senayan Bank Jakarta, Swadarma Paragon Corp, D’Masiv Petukangan, Cawang Sentral 1 Polypaint, Widya Chandra Telkomsel, Senen Toyota Rangga, Smabel, dan Rawa Selatan STIAMI.
Dari sisi kualitas layanan, Indeks Kepuasan Pelanggan meningkat 10% dari skor 4,0 pada 2018 menjadi 4,4 pada 2025. Standar Pelayanan Minimum (SPM) juga naik dari 93,52% menjadi 96,64% pada periode yang sama.
Proyek revitalisasi halte juga terus berjalan. Hingga 2025, sebanyak 46 halte atau sekitar 19% dari total 245 halte telah direvitalisasi.
Namun, di balik pertumbuhan tersebut, kebutuhan subsidi terus meningkat. Biaya produksi Transjakarta naik dari Rp1 triliun pada 2015 menjadi Rp4,7 triliun pada 2025. Dalam Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) 2026, biaya produksi diproyeksikan mencapai Rp5,5 triliun.
Porsi subsidi terhadap APBD DKI Jakarta juga meningkat dari 1% pada 2015 menjadi 5% pada 2025 dan diperkirakan naik menjadi 6% pada 2026.
“Kendati demikian, penambahan kelompok penerima tarif gratis dan komitmen elektrifikasi armada menuntut tata kelola keuangan yang adaptif agar lonjakan biaya produksi yang diproyeksikan mencapai Rp5,5 triliun pada 2026 tidak memberikan tekanan fiskal yang berlebih bagi ketahanan anggaran daerah,” kata Djoko.
Menurut Djoko, keberhasilan pengelolaan Transjakarta kini telah menjadi acuan bagi berbagai daerah di Indonesia dalam mengembangkan sistem transportasi publik modern dan terintegrasi. Pemerintah daerah dinilai tidak perlu lagi melakukan studi banding ke luar negeri karena model pengelolaan transportasi massal sudah tersedia dan dapat direplikasi langsung dari Jakarta.

