STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia melemah pada perdagangan Kamis (16/7/2026) waktu setempat atau Jumat pagi (17/7/2026) WIB. Penurunan terjadi seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) dan memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi.
Mengutip CNBC, harga emas spot turun 1,7% menjadi USD 3.989,95 per ons troi. Pada perdagangan intraday, harga emas bahkan sempat merosot hingga 2%.
Sementara itu, kontrak emas berjangka AS ditutup turun 1,4% menjadi USD 3.994,30 per ons troi.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 55% bagi bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) untuk kembali menaikkan suku bunga pada September 2026. Perhitungan tersebut mengacu pada CME FedWatch Tool.
Kenaikan ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bergerak lebih tinggi. Di sisi lain, dolar AS menguat sekitar 0,3%, sehingga membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar negeri.
Ketua The Fed Kevin Warsh pada pekan ini kembali menegaskan komitmennya untuk menurunkan inflasi. Namun, Warsh tidak memberikan petunjuk lebih lanjut terkait langkah kebijakan suku bunga berikutnya.
Di tengah kondisi tersebut, data ekonomi AS menunjukkan perkembangan yang beragam. Inflasi konsumen AS pada Juni 2026 tercatat melambat berdasarkan data yang dirilis Selasa (14/7/2026). Sementara itu, data yang diumumkan pada Rabu (15/7/2026) menunjukkan indeks harga produsen mengalami penurunan.
Analis Pasar Forex.com, Fawad Razaqzada, menilai harga energi yang tetap tinggi dapat membatasi ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneternya.
“Bahkan jika beberapa data ekonomi jangka pendek melemah, harga energi yang tetap tinggi akan menyulitkan The Fed untuk mengambil sikap yang lebih dovish. Karena alasan yang sama, investor lebih memilih dolar dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil,” ujar Fawad.
Kondisi tersebut membuat minat investor terhadap dolar AS meningkat dan menekan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai. Meski demikian, pasar masih terus memantau perkembangan konflik di Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga AS dalam beberapa bulan mendatang.

