spot_img

Samuel Sekuritas Sarankan Strategi Defensif di Semester II 2026, Jagokan Saham Ini

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Samuel Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan Indonesia menghadapi sejumlah tantangan berat pada paruh kedua 2026. Pelemahan rupiah, kenaikan imbal hasil obligasi, dan siklus kenaikan suku bunga menjadi perhatian utama investor. Strategi investasi defensif dinilai lebih relevan dibanding posisi agresif, dikutip Sabtu (8/7/2026).

Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama, Shim menjelaskan tekanan pasar pada semester pertama 2026 dipengaruhi arus keluar modal asing dan risiko kebijakan. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik dari 6,05% menjadi 7,13%. Angka ini meningkat 108 basis poin secara year-to-date (YTD).

Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan 100 basis poin ke level 5,75%. Langkah ini menandai Indonesia masuk dalam siklus kenaikan suku bunga.

“Memasuki paruh kedua 2026, pasar masih dibayangi kombinasi antara tekanan rupiah, kenaikan imbal hasil, dan ketidakpastian kebijakan. Dalam situasi seperti ini, strategi yang terlalu agresif belum tentu menjadi pilihan terbaik. Karena itu, pendekatan defensif menjadi semakin penting,” ujar Shim.

Fokus utama BI saat ini tertuju pada stabilisasi nilai tukar rupiah. Mata uang rupiah melemah dari Rp16.690 per USD menjadi Rp17.882 per USD atau sekitar 7,1% YTD. Konsensus memperkirakan USD/Rp berada di level Rp17.728 pada akhir tahun.

“Bank Indonesia menaikkan suku bunga untuk menjaga daya tarik rupiah. Namun, konsekuensinya adalah pertumbuhan ekonomi berpotensi tetap tertahan. Ini menjadi dilema utama pasar, karena stabilitas perlu dijaga, tetapi ruang pertumbuhan juga menjadi lebih terbatas,” jelas Shim.

Siklus kenaikan suku bunga kali ini mirip dengan kondisi 2018. BI rate naik dari 4,75% pada Maret 2026 menjadi 5,75% pada Juni 2026. Di periode yang sama, IHSG turun tajam dari 7.048 ke level 5.821.

Secara keseluruhan, IHSG terkoreksi dari 8.647 menjadi 5.643 atau melemah 35% YTD. Valuasi pasar berada di level 14,6 kali yang mendekati level krisis. Samuel Tumbuh Bersama menilai pasar mulai menawarkan titik masuk menarik, meski katalis pemulihan belum sepenuhnya kuat.

Head of Research Samuel Sekuritas Indonesia, Prasetya Gunadi menilai kinerja sektor perbankan masih cukup resilien. Laba bersih bank-bank besar atau Big 4 diperkirakan tumbuh 7% YoY pada 2Q26. Namun, angka ini turun 9% QoQ karena faktor musiman.

“Secara tahunan, kinerja bank masih terlihat resilien. Namun, investor perlu melihat lebih jauh ke paruh kedua tahun ini, karena tekanan dari suku bunga tinggi, pelemahan rupiah, dan potensi kenaikan biaya kredit masih menjadi tantangan bagi sektor perbankan,” ujar Prasetya.

Kombinasi rupiah lemah dan suku bunga tinggi menekan bank melalui kenaikan biaya dana (cost of funds). Margin bunga bersih (NIM) dan kualitas aset juga terancam. Rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp18.178 per USD pada 8 Juni.

Samuel Sekuritas merevisi turun proyeksi pertumbuhan agregat laba sektor perbankan 2026 dari 4,6% menjadi 1,8%. Rating sektor perbankan untuk 12 bulan ke depan diturunkan menjadi Neutral dari sebelumnya Overweight.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) tetap menjadi pilihan utama atau top pick. Target harga BMRI dipatok Rp6.000 per saham. Target ini mencerminkan potensi kenaikan sekitar 54% dari harga saat laporan disusun.

Laba bersih BMRI diproyeksikan tumbuh 16% YoY pada semester pertama 2026. Sebaliknya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) diperkirakan tertinggal dengan pertumbuhan sekitar 3% YoY. Pertumbuhan pendapatan operasional sebelum pencadangan (PPOP) bank besar tercatat 8% YoY pada 5M26.

“Pertumbuhan laba masih ada, terutama dari bank-bank yang mampu menjaga pendapatan bunga dan pendapatan non-bunga. Namun, tantangan utama ke depan adalah bagaimana bank menjaga margin, mengelola biaya dana, dan mempertahankan kualitas aset di tengah kondisi makro yang lebih ketat,” tutup Prasetya.

- Advertisement -

Artikel Terkait

IHSG dan Kapitalisasi Pasar BEI Kompak Turun Sepekan, Nilai Transaksi Harian Merosot 35%

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI)...

Divestasi 8,115 Juta Saham Winner Nusantara (WINR), Pengendali Tetap Kuasai 56,48%

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)- Pemegang saham pengendali PT Winner Nusantara Jaya...

Cum Date Dividen MTEL Rp25,6 per Saham 6 Juli, Simak Jadwal Lengkapnya!

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru