STOCKWATCH.ID (JAKARTA) — Andry Asmoro, Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan Indonesia mencapai 7.5% pada akhir tahun ini. Hal itu, disampaikan oleh Andry dalam acara media gathering yang digelar Bank Mandiri secara daring di Jakarta, Rabu (22/6).
Menurut Andry, sektor perbankan terus mengalami perbaikan. Ini ditandai dengan pulihnya permintaan domestik seiring menurunnya kasus Covid-19 dan membaiknya penanganan pandemi.
Pertumbuhan kredit, demikian Andry, terus terakselerasi dan tumbuh positif. Pada bulan April, pertumbuhan kredit mencapai 9,1%. “Secara year-to-date, pertumbuhan kredit perbankan nasional telah mencapai 3,8%,” ujarnya.
Di sisi lain, lanjut dia, dana pihak ketiga (DPK) perbankan terus tumbuh tinggi. Hingga April tahun ini, DPK melonjak sebesar 10,1% secara tahunan (year on year/yoy). Tingginya pertumbuhan DPK mendorong terjaganya likuiditas perbankan. Rasio loan to deposit (LDR) yang mencerminkan likuiditas perbankan masih rendah pada kisaran 80%.
“Meski jika dibandingkan bulan sebelumnya rasio LDR terlihat meningkat sejalan akselerasi pertumbuhan kredit,” imbuh Andry.
Andry mengatakan, ke depan, sektor perbankan akan menghadapi tantangan normalisasi kebijakan. Itu terutama dengan adanya kenaikan rasio GWM yang berpotensi mengurangi likuiditas secara bertahap.
Namun begitu, ia tetap optimistis intermediasi perbankan akan terus membaik, sejalan dengan pemulihan ekonomi nasional. “Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi tahun ini sebesar 5,17%, kami melihat pertumbuhan kredit perbankan akan membaik dan mencapai 7,5% pada akhir tahun,” tandasnya.