STOCKWATCH.ID (BEKASI) – PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST) memutuskan tidak membagikan dividen untuk tahun buku 2025. Keputusan ini ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Kawasan Industri MM2100, Bekasi, pada 18 Juni 2026.
Manajemen Bekasi Fajar menyepakati laba bersih tahun 2025 akan dialokasikan sebagai tambahan modal kerja. Langkah ini diambil untuk mendukung rencana pengembangan usaha perusahaan ke depan.
“Keputusan ini bertujuan untuk menambah modal kerja Perseroan dengan memperhatikan kepentingan dan rencana pengembangan usaha Perseroan ke depan,” tulis manajemen Bekasi Fajar dalam keterangannya.
Sepanjang tahun 2025, BEST membukukan laba bersih sebesar Rp30 miliar. Angka ini merosot tajam sebesar 49,15% jika dibandingkan dengan perolehan laba bersih tahun 2024 yang mencapai Rp59 miliar. Total pendapatan BEST sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp427 miliar. Perolehan tersebut turun 6,77% dari Rp458 miliar pada tahun 2024. Pendapatan Perseroan pada 2025 dikontribusikan oleh penjualan lahan sebesar Rp220 miliar dan pendapatan berulang (recurring income) mencapai Rp207 miliar. Pendapatan berulang ini terus menunjukkan pertumbuhan stabil dari tahun ke tahun.
Penurunan laba bersih ini sejalan dengan laba kotor Perseroan yang terkoreksi 10,07% menjadi Rp250 miliar, dari Rp278 miliar pada 2024. Marjin laba kotor tercatat sebesar 59%. Sementara itu, EBITDA perusahaan mencapai Rp154 miliar dengan marjin EBITDA 36% pada akhir 2025.
Sepanjang 2025, BEST mencatat penjualan lahan industri (marketing sales) seluas 15 hektare dengan nilai Rp422 miliar. Sektor makanan dan minuman, logistik, pergudangan, serta otomotif menjadi penopang utama penjualan tersebut.
Dari sisi neraca keuangan, total aset BEST per Desember 2025 berada pada posisi Rp5,80 triliun. Nilai ini sedikit menurun dari posisi akhir 2024 sebesar Rp5,82 triliun. Namun, perusahaan berhasil memperkuat struktur permodalan dengan pertumbuhan ekuitas menjadi Rp4,45 triliun dari Rp4,42 triliun.
Pada kuartal pertama 2026, pendapatan BEST naik menjadi Rp90 miliar dibanding periode yang sama tahun 2025 sebesar Rp45 miliar. Kenaikan pendapatan ini didorong oleh pertumbuhan recurring income dari Rp45 miliar menjadi Rp54 miliar. Selain itu, kontribusi dari penjualan lahan juga mulai terlihat pada awal tahun ini.
Laba bersih perusahaan juga menunjukkan pemulihan. Pada kuartal pertama 2025, BEST sempat merugi Rp33 miliar. Namun, pada kuartal pertama 2026, BEST berhasil mencetak laba bersih Rp9 miliar. Margin laba bersih pun tumbuh dari negatif 73% menjadi positif 10%.
Tahun ini, BEST memasang target penjualan lahan sebesar Rp600 miliar. Perusahaan juga membidik pertumbuhan pendapatan berulang yang stabil. Sektor gudang, logistik, barang konsumsi, makanan dan minuman, serta pusat data menjadi target utama pemasaran.
Strategi utama perusahaan tetap fokus pada bisnis kawasan industri di tengah gejolak ekonomi global. Pengembangan kawasan BeFa MM2100 terus dilanjutkan. Hal ini mencakup pembangunan Cluster Data Center untuk memenuhi permintaan sektor teknologi tinggi.
Selain itu, BEST mengembangkan segmen komersial BeFa Industrial Hub. Proyek ini merupakan bangunan pabrik standar yang bersifat multiguna. Inisiatif ini diharapkan mampu membuka sumber pendapatan baru dan memaksimalkan pemanfaatan lahan.
BEST mengklaim kawasan MM2100 miliknya memiliki keunggulan lokasi yang strategis. Kawasan ini akan dilewati oleh jalan tol JORR II Cibitung – Cilincing. Infrastruktur ini akan menambah akses dan konektivitas bagi para penghuni kawasan.
Ke depan, kawasan ini juga diklaim akan mendapatkan manfaat dari proyek strategis pemerintah. Proyek tersebut meliputi LRT, Tol Jakarta-Cikampek Selatan, serta perluasan Pelabuhan Tanjung Priok dan pembangunan Pelabuhan Patimban. Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun, BEST optimistis kebutuhan akan kawasan industri yang profesional akan terus meningkat.

