STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Nike memprediksi penurunan pendapatan tahunan yang mengejutkan. Saham raksasa perlengkapan olahraga ini langsung anjlok sekitar 4% pada perdagangan Selasa (30/6/2026) waktu setempat. Kabar ini muncul saat upaya pemulihan bisnis perusahaan masih tertatih-tatih menghadapi persaingan dan tumpukan persediaan barang.
Mengutip Investing, investor merasa tidak sabar dengan upaya perbaikan bisnis selama hampir dua tahun terakhir. CEO Nike, Elliott Hill, telah berupaya membersihkan kelebihan stok dan menghidupkan kembali inovasi produk. Namun, nilai saham perusahaan sudah merosot 35% sepanjang tahun ini.
Nike memproyeksikan pendapatan fiskal 2027 akan turun dalam kisaran rendah hingga menengah satu digit. Angka ini sangat jauh dari perkiraan rata-rata analis. Para analis sebelumnya memprediksi kenaikan 0,4% menjadi USD 46,47 miliar.
Elliott Hill menyebut kemajuan upaya perusahaan untuk meningkatkan lini produk olahraga belum maksimal. Hill berjanji untuk memfokuskan kembali brand pada olahraga utama seperti sepak bola dan lari. Ia juga mencoba membangun kembali hubungan dengan peritel grosir.
“Kemajuan dalam upaya perusahaan untuk meningkatkan lini produk yang berfokus pada olahraga terus berjalan tidak merata,” ujar Hill.
Nike akan memperkenalkan lebih dari selusin model sepatu baru dalam koleksi pakaian olahraganya. Namun, Hill menambahkan pekerjaan ini membutuhkan waktu untuk berkembang dan memberikan hasil yang konsisten.
Untuk kuartal keempat, Nike melaporkan penurunan pendapatan sebesar 1% menjadi USD 10.97 miliar. Angka ini sedikit lebih baik dari perkiraan analis sebesar USD 10,86 miliar. Laba per saham tercatat sebesar 72 sen, termasuk manfaat 52 sen dari pemulihan tarif impor.
Secara penyesuaian, laba per saham kuartalan mencapai 20 sen. Hasil ini melampaui perkiraan para ahli sebesar 13 sen. Meski melampaui estimasi, kinerja penjualan secara keseluruhan tetap dianggap kurang memuaskan.
Matthew Friend, Direktur Keuangan yang akan segera mengakhiri masa jabatannya, melihat kondisi ekonomi global yang sulit. Friend menyatakan pelanggan mereka sedang berhemat.
“Konsumen kami berada di bawah tekanan di seluruh dunia, dan kami terutama dapat melihat dampaknya yang lebih besar pada pakaian olahraga,” kata Friend.
Penjualan di wilayah China terus merosot akibat persaingan lokal dan kesalahan operasional. Penjualan di wilayah tersebut jatuh 17% berdasarkan mata uang tetap. Sebaliknya, penjualan di Amerika Utara naik 3% pada kuartal keempat dan mendorong pendapatan grosir.
David Swartz, analis dari Morningstar, menilai pencapaian Nike saat ini masih jauh dari kata sukses. Ia menyoroti penurunan penjualan yang terjadi di tengah ekspektasi pasar yang sudah rendah.
“Ekspektasi rendah dan Nike mengalami penurunan penjualan, jadi ini tetap bukan hasil yang baik,” ujar Swartz.
Upaya pemulihan Nike juga terbentur lingkungan makroekonomi yang berat akibat tarif dan perang di Iran. Pembersihan stok model lama juga menekan margin keuntungan perusahaan. Nike pun berinvestasi besar-besaran pada pemasaran menjelang Piala Dunia tahun ini demi bersaing dengan kompetitor seperti Adidas.
Di sisi lain, Nike melaporkan keuntungan USD 986 juta dari pengembalian dana tarif untuk periode Maret hingga Mei. Perusahaan sebelumnya menaikkan harga produk untuk menutupi biaya tarif sebesar USD 1,5 miliar. Pada bulan Mei, para konsumen sempat menggugat perusahaan karena tidak memberikan pengembalian dana atas kenaikan harga tersebut

