STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga minyak dunia melonjak tajam pada akhir perdagangan Rabu (22/4/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (23/4/2026). Kenaikan ini dipicu oleh aksi Iran menyita dua kapal kontainer di Selat Hormuz. Kondisi tersebut terjadi tak lama setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperpanjang masa gencatan senjata.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent naik lebih dari 3% menjadi 101,91 USD per barel. Harga minyak acuan global ini berakhir di atas level psikologis penting di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menguat lebih dari 3%. Minyak WTI ditutup pada posisi 92,96 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.
Kenaikan harga mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap kelancaran ekspor minyak. Perpanjangan gencatan senjata belum menjamin peningkatan aliran minyak melalui selat tersebut. Gangguan pasokan akibat perang ini menjadi yang terbesar dalam sejarah.
Lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz terpantau sangat sepi. Para pengirim barang menghadapi situasi keamanan yang sangat berbahaya. Garda Revolusi Iran mengaku menyita dua kapal kontainer karena melintas tanpa izin.
Kantor berita negara Iran, Tasnim, melaporkan kejadian tersebut berlangsung di jalur perairan utama. Sementara itu, pihak AS tetap mempertahankan blokade angkatan laut terhadap Iran. Langkah ini tetap dilakukan meski status gencatan senjata sedang berlangsung.
Presiden Donald Trump sebelumnya mengumumkan perpanjangan gencatan senjata sementara pada Selasa lalu. Keputusan ini diambil setelah rencana perundingan damai di Pakistan menemui jalan buntu. Trump menilai kepemimpinan Iran saat ini sedang mengalami perpecahan internal.
Trump meminta para pemimpin Iran mengajukan proposal perdamaian yang terpadu. Perpanjangan gencatan senjata ini menunjukkan jalan menuju perdamaian masih sangat tidak pasti. Risiko serangan militer memang tertunda namun terobosan diplomasi belum terlihat nyata.
Bob McNally, Presiden Rapidan Energy, memberikan pandangannya terhadap situasi di Teheran. Ia menilai rezim Iran merasa memiliki posisi lebih kuat dibandingkan Trump. Iran tampaknya siap menghadapi tekanan ekonomi dalam jangka waktu lama.
“Mereka siap makan rumput selama enam bulan untuk mempertahankan cengkeraman pada urat nadi ini demi menunggu harga minyak naik lebih tinggi lagi dan akhirnya saham-saham turun,” ujar McNally.
Pihak Teheran juga optimis bisa melewati konflik ini dengan kemenangan strategis. Mereka ingin memberikan pelajaran kepada pihak lawan melalui kontrol di jalur pelayaran.
“Mereka berpikir akan berakhir selamat dari konflik ini setelah memberi pelajaran dan bahkan mungkin dengan kendali atas Selat Hormuz,” tambah McNally.
