STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) memperkuat jaringan bisnis ritelnya melalui aksi akuisisi properti besar-besaran. Perseroan membeli sejumlah aset tanah dan bangunan di lima kota berbeda. Total nilai transaksi ini mencapai Rp 780 miliar.
Langkah strategis ini dilakukan melalui penandatanganan beberapa Akta Pengikatan Jual Beli (APJB) pada 30 Juni 2026. Seluruh transaksi ini melibatkan pihak terafiliasi yang berada di bawah kendali PT Multipolar Tbk (MLPL).
Manajemen MPPA menjelaskan perolehan aset ini merupakan bagian dari strategi memperkuat pengembangan jaringan usaha. Perseroan ingin mendukung ekspansi bisnis melalui pengembangan ekosistem ritel yang terintegrasi.
Aset yang dibeli tersebar di lokasi strategis. Pertama, tanah seluas 38.169 meter persegi di Balaraja, Tangerang, seharga Rp 54,50 miliar dari PT Balaraja Sentosa (BS). Kedua, tanah dan bangunan eks Matahari Malioboro di Yogyakarta senilai Rp 68,00 miliar dari PT Nusa Malioboro Indah (NMI).
Ketiga, MPPA mengambil alih dua aset di Bogor dari PT Surya Asri Lestari (SAL). Aset tersebut meliputi pusat perbelanjaan Mega M Kedung Badak seharga Rp 122,00 miliar dan Sinar Matahari Bogor senilai Rp 49,50 miliar.
Keempat, Perseroan membeli Plaza Gresik di Jawa Timur senilai Rp 134,50 miliar dari PT Panca Megah Utama (PMU). Terakhir, MPPA mengakuisisi bangunan di Mall City of Tomorrow, Surabaya, seharga Rp 351,50 miliar dari PT Citra Cito Perkasa (CCP).
Berdasarkan laporan penilaian dari Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Iwan Bachron & Rekan, harga pembelian seluruh aset tersebut berada di bawah nilai pasar. Sebagai contoh, aset di Surabaya memiliki nilai pasar Rp 359,82 miliar, namun dibeli seharga Rp 351,50 miliar. Selisih harga tersebut memberikan potensi keuntungan bagi Perseroan.
KJPP Kusnanto & rekan menyatakan transaksi ini masuk kategori wajar. Pimpinan Rekan KJPP Kusnanto & rekan, Willy D. Kusnanto menyebutkan analisis kewajaran dilakukan dari aspek keuangan sesuai ketentuan otoritas.
“Berdasarkan ruang lingkup pekerjaan, asumsi-asumsi, data, dan informasi yang diperoleh dari manajemen Perseroan, kami berpendapat transaksi adalah wajar,” ujar Willy dalam keterbukaan informasi dikutip Jumat (3/7/2026).
Direktur MPPA, Mirtha Sukanto mengungkapkan pemilihan aset dari pihak afiliasi didasarkan pada kesesuaian dengan rencana strategis perusahaan. Kepemilikan langsung dianggap lebih optimal daripada skema sewa.
“Pembelian aset ini merupakan langkah strategis untuk memperoleh aset yang dapat secara optimal mendukung pelaksanaan strategi pengembangan usaha Perseroan,” kata Mirtha.
Aksi korporasi ini berdampak positif pada posisi keuangan MPPA. Berdasarkan data proforma per 31 Desember 2025, aset tetap Perseroan melonjak dari Rp 389,02 miliar menjadi Rp 1,16 triliun. Rasio lancar (current ratio) juga diprediksi meningkat dari 0,81 menjadi 0,97.
Manajemen menegaskan transaksi afiliasi ini telah melalui prosedur yang memadai. Prosedur tersebut memastikan transaksi dilakukan sesuai dengan praktik bisnis yang berlaku umum dan tidak mengandung benturan kepentingan.

