Kamis, Juli 25, 2024
25.4 C
Jakarta

Tumbuh 76,8%, Laba Bersih BNI Capai Rp13,7 Triliun Kuartal III 2022

STOCKWATCH,ID (JAKARTA) – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI (kode saham: BBNI) membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 76,8% menjadi Rp13,7 triliun pada kuartal ketiga tahun 2022 ketimbang periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan laba bersih BNI antara lain ditopang oleh pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NIM) yang mengalami kenaikan sebesar 5,2% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp30,2 triliun.

Selain itu, pendapatan non bunga atau Non-Interest Income yang tumbuh baik 7,8% menjadi Rp11 triliun ikut berkontribusi terhadap melonjaknya laba bersih Perseroan hingga September 2022. Adapun pendorong Non Interest Income BNI yakni transaksi digital dan fee dari bisnis sindikasi. Tak pelak, BNI sukses mencetak pendapatan operasional sebelum pencadangan atau Pre-Provisioning Operating Profit (PPOP) sebesar Rp25,8 triliun, meningkat 9,7% yoy.

Sampai dengan September 2022, pertumbuhan kredit BNI mencapai 9,1% yoy menjadi Rp622,61 triliun. Pinjaman BNI difokuskan pada segmen berisiko rendah, debitur Top Tier di setiap sektor industri prospektif, serta regional champion di masing-masing daerah. Diharapkan, eksposur kredit berkualitas tinggi ini berdampak pada perbaikan kualitas kredit dalam jangka panjang.

Sebagai penopang pertumbuhan kredit, BNI mengandalkan pendanaan terutama dari Current Account Savings Account (CASA) yakni tabungan dan giro. Rasio CASA BNI mencapai 70,9% dari total dana pihak ketiga (DPK). Angka ini merupakan pencapaian yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir ini.

“Kami sangat bersyukur sampai dengan kuartal ketiga 2022 ini, kami dapat konsisten membukukan kinerja yang solid di tengah berbagai tantangan ekonomi global maupun domestik,” kata Direktur Utama BNI Royke Tumilaar, dalam keterangn pers di jakarta, Senin (24/10).

Distribusi Pembiayaan

Wakil Direktur Utama BNI, Adi Sulistyowati, memaparkan kinerja pertumbuhan kredit di kuartal ketiga 2022 antara lain didorong oleh kredit korporasi swasta yang mencapai Rp211,9 triliun atau tumbuh 20,4% yoy. Ini diikuti oleh segmen large komersial yang tercatat tumbuh 22,3% yoy jadi sebesar Rp49,4 triliun.

Pada segmen kecil, pertumbuhan terutama pada Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang naik 24,3% yoy menjadi Rp51,3 triliun.  Untuk segmen konsumer mencapai Rp106,9 triliun atau naik 11,3% yoy dengan pertumbuhan terutama pada produk payroll loan.

“Pertumbuhan ini sejalan dengan strategi manajemen untuk tumbuh dengan sehat dan sustain dengan menyasar pada debitur top tier di segmen industri prospektif diiringi dengan kebijakan manajemen risiko yang prudent,” sebutnya.

Adi Sulistyowati yang akrab disapa Susi menuturkan, perkembangan kinerja BNI hingga kuartal ketiga 2022 juga didukung oleh tingkat permodalan yang kuat dan likuiditas yang memadai sebagaimana tercermin dari Capital Adequacy Ratio (CAR) yang berada di level 18,9% dan Loan to Deposit Ratio (LDR) yang berada pada posisi 91,2%.

“Selain itu, Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada di 193% dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) berada di 124% yang menunjukkan bahwa BNI memiliki kecukupan likuiditas untuk mendukung pertumbuhan bisnis,” katanya.

Dari sisi kualitas aset, Susi menyampaikan bahwa Loan at Risk (LAR) mengalami penurunan signifikan dari 25,2% di September 2021 menjadi 19,3% di September 2022, terutama karena menurunnya jumlah kredit restrukturisasi karena Covid – 19.

“Kami pun terus berupaya menjaga LAR Coverage atau rasio pencadangan untuk debitur LAR pada level yang memadai yakni sebesar 42,7%. Bahkan, kami melihat bahwa kemampuan pembayaran kewajiban dari debitur LAR semakin membaik sehingga mendorong perbaikan pada pendapatan bunga, serta menjadi indikasi pemulihan bisnis nasabah yang lebih baik setelah terdampak pandemi,” sebutnya.

Strategi BNI

Royke Tumilaar mengakui prospek ekonomi domestik berpotensi tidak lagi seimpresif semester pertama. Namun, perseroan masih melihat indikator makro ekonomi di Indonesia akan cukup sehat dibandingkan negara lain. Inflasi hingga September berada pada level 6%, dan masih cukup wajar untuk ukuran negara berkembang dan tahun depan diperkirakan membaik di bawah 4%.

Meskipun tren perlambatan ekonomi global cukup mengkhawatirkan, perekonomian Indonesia diperkirakan relatif stabil dengan didukung bauran kebijakan fiskal dan moneter yang efektif untuk menjaga stabilitas. Indikator kestabilan eksternal ekonomi Indonesia pun terus membaik, terutama dari cadangan devisa yang kuat serta tingkat eksposur utang luar negeri yang rendah.

“Tentu kita perlu mewaspadai potensi meningkatnya risiko yang akan dihadapi oleh perekonomian dan perbankan Indonesia ke depan. Untuk itu, perseroan mengambil langkah proaktif untuk menjaga profitabilitas dapat sustain dalam jangka panjang,” katanya.

Strategi pertumbuhan BNI akan tetap fokus pada segmen yang memiliki return yang atraktif dengan kualitas kredit yang baik, seperti korporasi sektor unggulan dan value chain-nya, pinjaman payroll di segmen konsumer, serta KUR di segmen kecil.

Dengan strategi yang konservatif ini, Net Interest Margin (NIM) diperkirakan akan berada di level yang moderat, namun akan dikompensasikan dengan Cost of Credit atau biaya CKPN yang rendah dan fee income yang optimal dari transaksi nasabah.

“Kami percaya ini adalah strategi yang tepat di tengah turbulensi ekonomi global, untuk memberikan hasil yang optimal dan sustainable bagi para pemegang saham kami”, imbuh Royke.

Artikel Terkait

BRI Cetak Laba Bersih Rp29,9 Triliun pada Semester I 2024

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk...

Terungkap! Begini Strategi BCA Jaga Likuiditas Tinggi dan Suku Bunga Stabil

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Central Asia Tbk (BCA)...

Kapan Suku Bunga BI Bisa Turun? Ini Kata Bos  BCA!

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terbaru