spot_img

Bursa Eropa Lesu, Saham Medis Turun Imbas Proses Hukum di AS

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah pada perdagangan Kamis (25/9/2025) waktu setempat. Kekhawatiran soal kebijakan dagang Amerika Serikat kembali membayangi pergerakan pasar.

Mengutip CNBC International, indeks Stoxx Europe 600 yang mencakup saham-saham utama di kawasan Eropa, turun 0,71%. Semua bursa utama di kawasan Eropa berakhir di zona merah.

Sektor ritel menjadi pengecualian. Indeks Stoxx Europe 600 Retail naik 0,42%. Saham raksasa fesyen H&M melesat 9,8% setelah laporan kinerja kuartal III melampaui ekspektasi.

Sebaliknya, saham perusahaan teknologi medis jatuh. Pemerintahan Donald Trump membuka investigasi keamanan nasional terhadap impor perangkat medis, robotika, dan mesin industri. Investor khawatir barang-barang ini bisa menjadi target tarif baru Gedung Putih.

Saham Siemens Healthineers turun 3,5%. Philips melemah 3%. Perusahaan asal London, Convatec, anjlok 5,6%.

Perusahaan investasi Inggris Petershill Partners justru melonjak lebih dari 33%. Lonjakan ini terjadi setelah mereka mengumumkan rencana keluar dari Bursa Efek London.

Saham raksasa perangkat lunak SAP juga ikut tertekan. Sahamnya ditutup turun 1,2% setelah Komisi Eropa membuka investigasi antitrust atas praktik bisnis mereka.

“SAP percaya kebijakan dan tindakannya sejalan dengan aturan persaingan. Namun, kami menanggapi isu yang diangkat dengan serius dan bekerja sama erat dengan Komisi Eropa untuk menyelesaikannya,” tulis SAP dalam pernyataan resmi.

“Kami tidak memperkirakan keterlibatan dengan Komisi Eropa akan berdampak material pada kinerja keuangan kami,” lanjut pernyataan itu.

Di sisi lain, sembilan bank besar Eropa, termasuk UniCredit, ING, dan Danske Bank, mengumumkan rencana meluncurkan stablecoin berbasis euro pada tahun depan.

Investor juga mencermati data kepercayaan konsumen Jerman. Laporan GfK dan Nuremberg Institute for Market Decisions (NIM) menyebut tren penurunan kepercayaan konsumen terhenti berkat perbaikan ekspektasi pendapatan.

Meski begitu, Rolf Bürkl, Kepala Iklim Konsumen NIM, memberi catatan hati-hati. “Apakah ini awal dari pembalikan tren yang berkelanjutan masih sangat tidak pasti. Iklim konsumen tetap berada pada level yang sangat rendah,” jelasnya.

Ia menambahkan, “Situasi geopolitik, kekhawatiran tentang pekerjaan, dan ketakutan baru terhadap inflasi kemungkinan besar akan menghambat pemulihan menyeluruh saat ini.”

- Advertisement -

Artikel Terkait

OpenAI Siap Melantai di Bursa Saham, Bakal Jadi IPO Terbesar dalam Sejarah?

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – OpenAI diam-diam mendaftarkan diri untuk...

Futures Saham AS Turun Tipis, Investor Soroti Valuasi Saham Chip dan Konflik Timur Tengah

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Kontrak berjangka (futures) saham Amerika...

Saham Chip Bangkit, Indeks S&P 500 dan Nasdaq Parkir di Zona Hijau

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau Wall...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru