STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia melonjak tajam pada akhir perdagangan Selasa (20/4/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (22/4/2026) WIB. Kenaikan ini dipicu oleh keraguan pasar terhadap kelanjutan perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Investor khawatir perang di Timur Tengah akan kembali pecah setelah masa gencatan senjata berakhir besok.
Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent naik 3% menjadi 98,48 USD per barel. Harga minyak acuan internasional ini hampir menyentuh level psikologis 100 USD di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak hampir 3%. Minyak WTI berakhir pada posisi 92,13 USD per barel di New York Mercantile Exchange.
Harga merangkak naik setelah kabar Wakil Presiden JD Vance menunda keberangkatan ke Pakistan. Sedianya, Pakistan menjadi lokasi dimulainya kembali pembicaraan damai dengan Iran. Pejabat AS menyebut perjalanan tersebut ditunda karena Iran belum memberikan tanggapan atas posisi negosiasi Amerika.
Meski begitu, perjalanan tersebut belum dibatalkan sepenuhnya. Pejabat tersebut menyatakan keberangkatan bisa dilakukan sewaktu-waktu. Di sisi lain, pejabat senior Iran belum memberikan komitmen publik untuk ikut serta dalam pembicaraan.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, memberikan tanggapan melalui media sosial pada Senin lalu. Ia menegaskan Teheran tidak akan menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman.
Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, mengutuk blokade laut AS terhadap negaranya pada Selasa. Araghchi menilai tindakan tersebut sebagai aksi perang dan pelanggaran gencatan senjata. Ia juga menyoroti penyitaan kapal kargo Iran oleh AS sebagai pelanggaran yang lebih besar.
“Iran tahu cara menetralisir pembatasan, cara membela kepentingannya, dan cara melawan penindasan,” tulis Araghchi dalam unggahan media sosialnya.
Penundaan ini meningkatkan risiko kegagalan kesepakatan sebelum gencatan senjata berakhir pada Rabu waktu AS. Presiden Donald Trump menegaskan tidak tertarik memperpanjang masa damai sementara tersebut.
Trump tetap optimis bisa mengamankan kesepakatan besar dengan Iran. Namun, ia menyatakan kesiapan militer untuk melanjutkan perang jika negosiasi gagal. Trump menilai kekuatan militer AS telah melumpuhkan angkatan laut, angkatan udara, hingga para pemimpin Iran.
“Apa yang saya pikirkan adalah kita akan berakhir dengan kesepakatan yang luar biasa,” ujar Trump dalam wawancara dengan CNBC.
Trump menambahkan sikap agresif diperlukan dalam memasuki proses perundingan. “Saya berharap untuk melakukan pengeboman karena saya pikir itu adalah sikap yang lebih baik untuk dilakukan,” kata Trump.
Presiden AS ini menganggap kenaikan harga minyak saat ini masih tergolong kecil. Ia bahkan mengaku terkejut harga minyak tidak melonjak jauh lebih tinggi. Trump merasa heran harga minyak berada di level 90 USD dan bukan 200 USD.
Analis Utama Minyak Rystad Energy, Paola Rodriguez-Masiu, memperkirakan gangguan pasokan minyak akan memburuk bulan ini. Hal ini terjadi karena lalu lintas kapal tanker melewati Selat Hormuz tetap sangat rendah.
Negara-negara Teluk diperkirakan memproduksi 14,3 juta barel per hari pada April ini. Angka tersebut turun 3 juta barel per hari dibandingkan level Maret. Produksi ini berada sekitar 13 juta barel per hari di bawah level sebelum perang pecah.
