Pasar Energi Alami ‘Mimpi Buruk’, Harga Minyak Brent Meroket 63% Sepanjang Maret

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Harga minyak mentah Brent mencatat lonjakan bulanan sebesar 63% sepanjang Maret 2026. Ini merupakan kenaikan bulanan terbesar sejak tahun 1988. Perang Iran menjadi pemicu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah.

Mengutip CNBC International, harga minyak mentah Brent untuk kontrak Mei naik sekitar 5% pada perdagangan Selasa (31/3/2026) waktu setempat atau Rabu pagi (1/4/2026). Harga minyak acuan global ini ditutup pada level USD 118,35 per barel di London ICE Futures Exchange. Sebaliknya, harga untuk kontrak Juni justru turun 3,2%.

Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot 1,46% dan berakhir pada posisi USD 101,38 per barel di New York Mercantile Exchange. Meski turun tipis secara harian, harga minyak WTI melonjak sekitar 51% sepanjang Maret. Capaian ini menjadi performa bulanan terbaik sejak Mei 2020.

Penurunan harga minyak mentah AS dan Brent kontrak Juni terjadi menyusul adanya laporan terkait peluang damai. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan pihak Iran dikabarkan mulai terbuka untuk mengakhiri perang.

Bob McNally, Presiden Rapidan Energy, memberikan analisanya mengenai situasi pasar saat ini kepada CNBC. “Ini adalah mimpi buruk. Pasar energi telah mengalami mimpi buruk yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya dan ingin percaya mimpi buruk itu telah berakhir,” ujar Bob McNally.

Menurut laporan Wall Street Journal (WSJ), Trump menyampaikan kepada para pembantunya perihal kesediaan menghentikan operasi militer terhadap Iran. Langkah ini tetap akan diambil meskipun Selat Hormuz masih dalam kondisi tertutup. Laporan yang belum terkonfirmasi juga menunjukkan Presiden Iran Masoud Pezeshkian memiliki keinginan serupa untuk mengakhiri konflik.

Di tengah kabar damai, tensi di lapangan sempat memanas akibat serangan Iran terhadap kapal tanker minyak Kuwait di luar wilayah Dubai. Kuwait Petroleum Corporation menyatakan tidak ada korban luka maupun tumpahan minyak dalam insiden tersebut.

Ben Emons, CIO FedWatch Advisors, menilai serangan itu menunjukkan cengkeraman Iran yang semakin kuat di Selat Hormuz. Hal ini menimbulkan risiko baru bagi gangguan aliran energi global.

“Hasilnya adalah permainan yang lebih asimetris, dengan AS condong ke arah keluar dan Iran masih terdorong untuk membebankan biaya,” kata Ben Emons.

Sebelumnya, Trump sempat mengancam akan memperluas serangan ke infrastruktur energi sipil Iran. Pembangkit listrik, fasilitas minyak, hingga pabrik desalinasi air menjadi sasaran jika Teheran gagal membuka kembali Selat Hormuz.

Melalui unggahan di Truth Social, Trump memberikan peringatan keras jika Teheran tidak menyepakati perjanjian damai. “kami akan mengakhiri ‘kunjungan’ menyenangkan kami di Iran dengan meledakkan dan melenyapkan sepenuhnya,” tulis Trump.

Sikap Trump sendiri kerap berubah-ubah antara memuji kemajuan negosiasi dan memberikan peringatan militer. Ia mengklaim Teheran telah menyetujui sebagian besar dari 15 poin proposal gencatan senjata yang diajukan AS. Namun, Teheran secara publik menolak persyaratan tersebut dan mengajukan syarat balasan, termasuk kendali atas Selat Hormuz.

Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan opsi pengiriman pasukan darat untuk merebut Pulau Kharg. Wilayah ini merupakan pusat bahan bakar utama yang memfasilitasi 90% ekspor minyak mentah Iran.

Sejak perang dimulai pada 28 Februari lalu, lalu lintas pengiriman melalui Selat Hormuz praktis terhenti total. Jalur ini biasanya mengangkut seperlima dari pengiriman minyak laut global.

Para ahli memperingatkan operasi darat untuk merebut Pulau Kharg memiliki risiko besar. Langkah militer tersebut diprediksi dapat meningkatkan jumlah korban dari pihak AS serta memperpanjang durasi dan biaya perang.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Permintaan Aset Aman Meningkat, Harga Emas Dunia Naik Dua Hari Berturut-turut

STOCKWATCH.ID (CHICAGO) – Harga emas dunia kembali menguat pada...

Brent Melonjak 55% Selama Maret, Analis Prediksi Harga Minyak Tembus USD 150

STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak mentah dunia berakhir bervariasi...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru