STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) memperkuat komitmennya mendukung transisi energi dan konektivitas digital di Indonesia. Perseroan menargetkan pencapaian netralitas karbon pada tahun 2050 melalui pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT). Strategi ini dibarengi dengan perluasan infrastruktur digital berbasis kecerdasan buatan (AI).
Wakil Presiden Direktur DSSA, Lokita Prasetya, menjelaskan sektor energi tetap menjadi fondasi bisnis utama perusahaan. Fokusnya kini beralih pada operasional yang efisien dan berkelanjutan.
Langkah nyata dilakukan melalui akselerasi elektrifikasi armada operasional di PT Borneo Indobara (BIB). DSSA juga mulai memperkuat portofolio panas bumi dan tenaga surya. Hal ini dilakukan guna menciptakan bauran energi yang lebih seimbang di masa depan.
Saat ini, DSSA mengoperasikan pabrik panel surya terintegrasi berkapasitas 1 GW di KEK Kendal. Untuk sektor panas bumi, Perseroan melalui PT DSSR Daya Mas Sakti mengelola potensi energi mencapai 440 MW. Eksplorasi tengah dilakukan di enam wilayah strategis, mulai dari Jawa Barat hingga Sulawesi Tengah.
“Pendekatan kami adalah menjaga keandalan pasokan energi saat ini, sekaligus secara bertahap mengembangkan sumber energi yang lebih rendah emisi sebagai bagian dari strategi jangka panjang Perseroan,” ujar Lokita dalam acara Media Gathering di Jakarta, Kamis (2/4/2026).
DSSA juga menjalin kemitraan strategis dengan PT FirstGen Geothermal Indonesia. Kemitraan ini bertujuan memperkuat kapabilitas teknis dalam pengembangan energi hijau. Perseroan ingin memanfaatkan potensi panas bumi Indonesia yang mencapai 40% dari total potensi global.
Di sisi lain, DSSA gencar memperkuat bisnis infrastruktur digital dan teknologi. Perseroan berkolaborasi dengan iFLYTEK untuk mengembangkan solusi AI di sektor kesehatan, pendidikan, dan telekomunikasi. Langkah ini didukung oleh jaringan fiber optic sepanjang 57.000 km milik perusahaan.
CEO PT DSST Mas Gemilang (DSST), Marlo Budiman, melihat adanya peluang besar dalam ekonomi digital nasional. Masih ada sekitar 50 juta masyarakat yang belum terlayani internet secara optimal. Potensi pasar telekomunikasi nasional diperkirakan mencapai USD 29 miliar atau sekitar Rp464 triliun (asumsi kurs Rp16.000).
“Kami melihat peluang besar untuk mendorong pemerataan penetrasi digital dengan menjawab kesenjangan yang ada, sekaligus menghadirkan solusi berbasis AI yang mudah diakses,” ungkap Marlo.
DSSA kini melayani sekitar 1 juta pelanggan broadband melalui MyRepublic Indonesia dengan 9 juta homepass. Perseroan juga mengoperasikan 24 Edge Data Center di berbagai kota strategis. Selain itu, fasilitas Flagship Hub Jakarta SMX01 dijadwalkan beroperasi pada semester kedua 2026.
Direktur DSSA, David Audy, menambahkan adopsi AI di Indonesia memerlukan fondasi energi dan konektivitas yang merata. Perseroan membangun kedua aspek tersebut secara terintegrasi. David meyakini posisi strategis DSSA dalam ekosistem teknologi nasional.
“DSSA berada pada posisi strategis sebagai enabler sekaligus beneficiary dari pertumbuhan adopsi AI di Indonesia,” tutur David.
Sepanjang tahun 2026, DSSA juga berencana melakukan aksi korporasi berupa pemecahan nilai saham atau stock split. Langkah ini bertujuan memperkuat struktur bisnis dan meningkatkan likuiditas saham di pasar modal. Perseroan optimistis dapat menangkap peluang pertumbuhan di sektor digital sekaligus menjaga kekokohan bisnis energi.
