Riset NH Korindo: Efek Perang Berkepanjangan, Rupiah Tertekan ke Level Rp17.100

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Konflik geopolitik dunia diperkirakan berlangsung lebih lama dari dugaan semula. Mantan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno Marsudi, menilai situasi ini memberikan tantangan berat bagi ekonomi global. Tekanan besar diprediksi akan terjadi dalam dua hingga tiga bulan ke depan.

Pandangan tersebut dirangkum oleh Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia, Ezaridho Ibnutama, dalam riset terbarunya. Ia menyoroti dampak perang terhadap pertumbuhan ekonomi dan nilai tukar mata uang nasional.

“Konflik kemungkinan akan terus berlanjut,” ujar Retno.

Bank Dunia turut bereaksi terhadap kondisi tersebut. Lembaga internasional ini memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi 4,7%. Angka ini lebih rendah dibandingkan capaian tahun 2025 sebesar 5,1%.

Penurunan target dipicu oleh lonjakan harga minyak dunia. Munculnya sentimen penghindaran risiko (risk-off) di kalangan investor juga menjadi penyebab utama. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap arus modal keluar dari pasar domestik.

Dampaknya langsung terasa pada nilai tukar mata uang Garuda. Rupiah terpantau melemah ke kisaran level Rp17.100 per USD. Pelemahan ini mencerminkan tingginya tekanan terhadap stabilitas moneter nasional akibat ketidakpastian global.

Meski demikian, Pemerintah tetap optimistis menghadapi situasi sulit tersebut. Menteri Keuangan Purbaya meyakini pemulihan ekonomi akan mulai terlihat pada kuartal kedua 2026. Ia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional bisa mencapai angka 5,5% hingga 5,6%.

Keyakinan ini didasari oleh beberapa faktor pendukung internal. Kuatnya konsumsi masyarakat selama masa Lebaran menjadi motor penggerak utama. Selain itu, belanja pemerintah diproyeksikan melonjak sebesar 30%.

Penerimaan dari sektor perpajakan juga menunjukkan tren positif. Pemerintah menargetkan kenaikan pendapatan pajak sebesar 20%. Kombinasi faktor-faktor ini diharapkan mampu membentengi ekonomi Indonesia dari guncangan luar negeri.

Investor kini terus memantau perkembangan fiskal dan moneter di tengah situasi perang yang berkepanjangan. Langkah-langkah strategis pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat menjadi kunci utama pemulihan.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Perkuat Stok Minyak, Presiden Prabowo Temui Putin di Rusia

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Presiden RI Prabowo Subianto bertolak menuju...

Dorong Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, BP BUMN Perkuat Peran BUMN

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) — BP BUMN terus memperkuat perannya agar...

Genjot Investasi Waste-to-Energy, Danantara Indonesia Bentuk Holding Pengelolaan Sampah PT Denera

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Danantara Indonesia resmi membentuk PT Daya...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru