STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) bersiap memacu mesin pertumbuhannya pada tahun ini. Bank digital pertama di Indonesia ini telah menyiapkan peta jalan strategis 2026 untuk memperkuat ekosistem bisnis yang berkelanjutan.
“Teknologi harus memberikan dampak dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” ungkap manajemen dalam paparan publiknya, dikutip Sabtu (13/6/2026).
Strategi besar Amar Bank tahun ini berfokus pada tiga pilar utama. Pertama, perusahaan akan mengakselerasi segmen ritel dan UMKM. Caranya dengan memperluas akses pembiayaan dan layanan digital bagi nasabah individu serta pelaku usaha kecil.
Kedua, bank berkode saham AMAR ini membangun pertumbuhan berbasis ekosistem. Perseroan menghadirkan layanan keuangan terintegrasi melalui embedded banking dan kemitraan strategis.
Ketiga, Amar Bank mulai melirik peluang di ekosistem kreatif. Perusahaan memperkuat posisinya melalui kolaborasi dengan JAFF Market dan berbagai komunitas kreatif tanah air.
Direktur Utama Amar Bank, Vishal Tulsian, menjelaskan perusahaan memiliki tujuan besar. “Memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kesehatan dan inklusi keuangan secara berkelanjutan,” ujar Vishal, dalam materi paparan public yang diunggah di laman Bursa, Sabtu (13/6/2026).
Hingga saat ini, aplikasi Tunaiku milik bank telah diunduh lebih dari 28 juta kali. Setiap tahunnya, terdapat lebih dari 3 juta pengajuan pinjaman. Amar Bank juga tercatat telah melayani lebih dari 500 ribu pelaku UMKM.
Total penyaluran dana sejak tahun 2014 telah menembus angka Rp19 triliun. Pada akhir 2025 saja, tren positif penyaluran kredit mencapai Rp3,75 triliun.
Untuk mendukung strategi tersebut, kinerja keuangan perusahaan pada Kuartal I 2026 menunjukkan angka yang positif. Amar Bank berhasil meraup laba bersih sebesar Rp71,1 miliar.
Penyaluran kredit tumbuh di atas rata-rata industri. Total kredit mencapai Rp4,2 triliun atau naik 30,6% secara tahunan (YoY). Menariknya, 86% dari total kredit tersebut dialokasikan untuk sektor produktif.
Segmen UMKM menyerap 55% dari total kredit perusahaan. Sementara itu, penyaluran ke sektor riil mencapai 56%. Kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah atau NPL yang sangat rendah, yaitu 0,86%.
Dana Pihak Ketiga (DPK) juga mengalami lonjakan drastis. Amar Bank mencatat DPK sebesar Rp2,9 triliun. Angka ini tumbuh sebesar 115,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dari sisi profitabilitas, Return on Asset (ROA) berada di angka 5,3% dan Return on Equity (ROE) sebesar 8,3%. Ketahanan modal perusahaan sangat kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 99,2%. Adapun ekuitas atau modal sendiri tercatat sebesar Rp3,4 triliun.
Selain Vishal, manajemen Amar Bank saat ini diisi oleh Kevin Kane sebagai Direktur Teknologi Informasi dan Operasional. Lalu ada Thio Sucy sebagai Direktur Kepatuhan dan Abraham C. Lumban Batu sebagai Direktur Retail Banking.
Posisi Komisaris Utama dijabat oleh Navin Nahata. Sementara itu, Zainal Abidin Hasni dan Ratna Heimawaty Zain menjabat sebagai Komisaris Independen.
Struktur kepemilikan saham bank saat ini dikendalikan oleh Tolaram dengan porsi 75,25%. Pemegang saham lainnya adalah PT Jagat Raya Imajinasi sebesar 6,59% dan SBI Holdings, Inc. sebesar 5,63%. Sisanya, sebesar 12,53% saham dimiliki oleh masyarakat.
Ke depan, Amar Bank akan terus memperluas jangkauan layanan di berbagai kota besar di Indonesia. Perusahaan juga berkomitmen memperkuat kesadaran merek (brand awareness) secara masif untuk menarik lebih banyak nasabah.

