spot_img

BI Rate Naik Jadi 5,25%, Begini Sikap BNI terhadap Arah Kebijakan Moneter

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mendukung penuh keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan. BI Rate kini berada di level 5,25% setelah mengalami kenaikan sebesar 50 basis poin. Langkah ini dinilai sangat terukur untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global.

Kebijakan tersebut dianggap krusial demi menjaga nilai tukar Rupiah dan mengendalikan inflasi. Selain itu, kenaikan ini diharapkan mampu memperkuat kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Terlebih, kondisi pasar keuangan global saat ini masih mengalami gejolak.

Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo menjelaskan kenaikan BI Rate merupakan respons proaktif dari otoritas moneter. Tujuannya untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan sektor keuangan nasional.

“BNI memandang keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebagai langkah yang terukur dan diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional serta memperkuat daya tahan sektor keuangan,” ujar Okki dikutip pada Sabtu (23/5/2026).

Okki menilai kebijakan moneter ini sangat penting bagi iklim usaha. Hal ini akan memastikan fungsi intermediasi perbankan tetap sehat dan produktif meski ketidakpastian global masih menghantui.

BNI akan terus mencermati perkembangan kondisi ekonomi dan pasar keuangan secara hati-hati. Langkah ini diambil guna memastikan dukungan pembiayaan kepada nasabah tetap berjalan optimal.

Perseroan juga berkomitmen melakukan evaluasi dan pemantauan berkala terhadap portofolio kredit. BNI ingin memastikan kualitas aset tetap terjaga dengan baik di tengah dinamika kebijakan moneter global maupun domestik.

“Kami akan terus menjaga keseimbangan antara memberikan nilai tambah bagi nasabah dan menjalankan prinsip kehati-hatian perbankan. Di saat yang sama, BNI tetap berkomitmen mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui penyaluran kredit yang sehat dan berkelanjutan,” lanjut Okki.

Saat ini, tekanan eksternal memang masih sangat tinggi. Mulai dari arah kebijakan suku bunga global yang tidak pasti, volatilitas nilai tukar, hingga tensi geopolitik. Faktor-faktor tersebut sangat memengaruhi arus modal dan stabilitas pasar keuangan di negara berkembang.

Pada level domestik, kebijakan BI ini menjadi langkah penting menjaga stabilitas makroekonomi. Sektor perbankan diharapkan tetap memiliki fundamental kuat untuk menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Melalui respons ini, BNI menegaskan posisinya sebagai bank nasional yang adaptif dan kuat dalam menghadapi dinamika ekonomi dunia. BNI tetap fokus menjaga fungsi intermediasi demi mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Ekspor CPO hingga Batu Bara Kini Lewat BUMN, DBS Bank Soroti Dampaknya ke Dunia Usaha

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – DBS Bank menyoroti kebijakan baru Pemerintah...

DBS Prediksi BI Masih Berpeluang Kerek Suku Bunga hingga 5,75%, Singgung Potensi BBM Naik

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – DBS Bank memprediksi Bank Indonesia (BI)...

Neraca Pembayaran Indonesia Defisit USD 9,1 Miliar Triwulan I 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mencatat defisit...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru