spot_img

Laba Bersih Astrindo (BIPI) Ambles 83% di 2025, Pendapatan Ikut Terkoreksi Tajam

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) mencatatkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar USD1,09 juta pada 2025. Perolehan ini merosot tajam 83,34% jika dibandingkan USD6,54 juta pada tahun 2024.

Berdasarkan laporan keuangan per Desember 2025 yang dipublikasikan Kamis (21/5/2026), pendapatan BIPI juga mengalami penurunan signifikan. Perseroan mengantongi pendapatan sebesar USD235,09 juta pada 2025. Angka ini turun 58,24% dari USD562,97 juta pada tahun sebelumnya.

Penjualan batubara menjadi tulang punggung pendapatan dengan kontribusi sebesar USD195,32 juta. Selain itu, sumber pendapatan lain berasal dari sewa pelabuhan senilai USD25,58 juta. Jasa penambangan menyumbang USD2,59 juta bagi total pendapatan konsolidasi.

Terdapat tiga pelanggan utama yang memberikan kontribusi pendapatan di atas 10%. Nghi Son 2 Power Limited Liability memberikan porsi terbesar yakni 42% atau USD98,73 juta. Disusul Taiwan Power Company sebesar 19,19% dan PT Arutmin Indonesia sebesar 14,97%.

Penurunan laba ini sejalan dengan beban pokok pendapatan yang mencapai USD200,44 juta pada 2025. Angka tersebut menyusut dari USD451,66 juta pada 2024. Beban umum dan administrasi juga berhasil ditekan menjadi USD11,92 juta dari sebelumnya USD14,07 juta.

Perseroan juga mencatatkan penurunan pada biaya keuangan. Nilainya menyusut menjadi USD69,10 juta pada 2025 dibandingkan USD84,58 juta di tahun 2024.

“Laporan keuangan konsolidasian PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk dan Entitas Anak telah disusun dan disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia,” kata Ray Anthony Gerungan, Direktur Utama BIPI dalam laporan tahunannya. Ray menandatangani laporan tersebut bersama Direktur BIPI, Wong Michael.

Dari sisi neraca keuangan, BIPI memiliki total aset sebesar USD1,60 miliar per 31 Desember 2025. Angka ini turun 5,32% dari USD1,69 miliar pada akhir tahun 2024.

Adapun jumlah liabilitas Perseroan mencapai USD1,01 miliar pada 2025. Sementara itu, total ekuitas ARTI tercatat sebesar USD593,98 juta, sedikit meningkat dari USD591,40 juta pada tahun 2024.

Dalam laporan tersebut, manajemen juga mengungkap adanya ketidakpastian material terkait kelangsungan usaha. Grup mencatat arus kas operasi negatif sebesar USD25,90 juta. Selain itu, BIPI melaporkan saldo defisit sebesar USD192,02 juta hingga akhir 2025.

Dua entitas anak Perseroan, JMB dan ABE, juga belum mendapatkan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026. Kondisi ini dinilai dapat menyebabkan keraguan signifikan atas kemampuan Grup untuk mempertahankan kelangsungan usahanya. Namun, manajemen Michael dan tim optimistis langkah-langkah efisiensi dan perpanjangan perjanjian dengan pelanggan dapat mengatasi isu tersebut.

- Advertisement -

Artikel Terkait

BTN dan KAI Garap 5.400 Unit Hunian TOD, Manggarai Diproyeksi Jadi ‘SCBD Kedua’ Jakarta

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk...

Laba Bersih BTN Melesat 43,84% Jadi Rp1,45 Triliun per April 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk...

Ketahanan Ekonomi RI Diuji Geopolitik 2026, Begini Proyeksi PEFINDO dan S&P

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) bersama...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru