spot_img

SSMS Siapkan Rp136 Miliar untuk Jasa Riset CBI, Penilai Independen Nyatakan Wajar

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) berencana melanjutkan kerja sama layanan riset (research service) dengan induk usahanya. Perseroan akan membayar jasa tersebut kepada PT Citra Borneo Indah (CBI).

CBI merupakan pemegang saham pengendali SSMS. Kepemilikan saham CBI di SSMS mencapai 65,83% per 31 Desember 2025. Transaksi ini bertujuan meningkatkan efektivitas kerja dan produktivitas lahan perkebunan kelapa sawit milik kelompok usaha.

Total nilai rencana transaksi ini sebesar Rp136,17 miliar. Angka tersebut setara dengan 4,63% dari total ekuitas Perseroan. Per 31 Desember 2025, ekuitas SSMS tercatat sebesar Rp2,94 triliun.

Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Syarif, Endang & Rekan telah menguji rencana ini. Penilai menyatakan transaksi tersebut masuk dalam kategori wajar.

“Berdasarkan pertimbangan analisis transaksi, analisis kualitatif dan analisis kuantitatif, kami berpendapat rencana transaksi pembayaran atas penggunaan layanan Research Service dari CBI oleh SSMS adalah Wajar,” tulis Endang Sunardi, Rekan dari KJPP Syarif, Endang & Rekan dalam laporannya.

Layanan riset ini mencakup analisis komprehensif atas kondisi tanah dan tanaman. Hasil analisis menjadi dasar strategi pemeliharaan, pemupukan, hingga peremajaan (replanting) pohon sawit. Cara ini diharapkan membuat pengelolaan kebun lebih efektif dan efisien.

Transaksi ini melibatkan SSMS dan tujuh anak usahanya. Anak usaha tersebut adalah PT Kalimantan Sawit Abadi (KSA) dan PT Mitra Mendawai Sejati (MMS). Selain itu ada PT Tanjung Sawit Abadi (TSA), PT Sawit Multi Utama (SMU), PT Mirza Pratama Putra (MPP), dan PT Menteng Kencana Mas (MKM).

Satu anggota baru dalam kelompok usaha, PT Sawit Mandiri Lestari (SML), juga ikut menggunakan jasa ini. SML baru diakuisisi oleh SSMS pada 24 November 2025. Khusus untuk SML, nilai pembayaran jasa riset adalah Rp12 miliar untuk jangka waktu delapan bulan.

Tarif yang dikenakan CBI tetap konsisten. Biayanya sebesar Rp150 ribu per hektare. Angka ini sama dengan tarif yang dikenakan kepada entitas lain dalam kelompok usaha sebelumnya.

Manajemen SSMS menjelaskan transaksi ini memberikan kepastian biaya bagi perusahaan. SSMS tidak perlu mengeluarkan investasi tambahan untuk membangun fasilitas laboratorium sendiri. Perseroan juga tidak perlu mencari sumber daya manusia ahli karena sudah disediakan oleh CBI.

Dampak keuangan dari transaksi ini dinilai positif. Berdasarkan proyeksi, rata-rata margin laba bersih (net profit margin) perusahaan akan berada di level 9,04%. Hal ini menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba tetap terjaga dengan baik.

Analisis inkremental menunjukkan adanya nilai tambah bagi SSMS. Total aset diproyeksikan meningkat sebesar Rp3,09 triliun pada tahun 2026. Laba tahun berjalan juga diperkirakan terus meningkat hingga mencapai Rp163,23 miliar pada tahun 2033.

SSMS merupakan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang berpusat di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Perseroan mengelola bisnis dari hulu hingga hilir, termasuk pabrik penyulingan (refinery) dan pengolahan inti sawit.

 

- Advertisement -

Artikel Terkait

BBNI Tuntaskan Pengalihan 16,37 Juta Saham Buyback 2025, Ini Tujuannya

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk...

Laba Melesat 29%, B-LOG Guyur Pemegang Saham Dividen Perdana Rp70,96 Miliar

STOCKWATCH.ID (TANGERANG) – PT Trimitra Trans Persada Tbk (B-LOG)...

Victoria Care (VICI) Bagi Dividen Rp33,54 Miliar, Investor Dapat Rp5 per Saham

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Victoria...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru