STOCKWATCH.ID (LONDON) – Kinerja bursa saham Eropa sedang lesu dibandingkan wilayah lainnya. Sejak pecahnya konflik di Timur Tengah, saham Eropa tertinggal 7% dari pasar global. Analis dari Goldman Sachs membeberkan tiga alasan utama yang menekan pasar tersebut.
Mengutip Investing, faktor-faktor yang membebani kinerja saham Eropa adalah ketidakpastian energi, kenaikan suku bunga, dan terbatasnya keterlibatan dalam tren kecerdasan buatan (AI). Goldman Sachs mengamati harga saham di Eropa bergerak berlawanan dengan harga energi dan imbal hasil obligasi.
Kawasan Euro merupakan pengimpor energi bersih. Hal ini membuatnya sangat sensitif terhadap gangguan pasokan di Timur Tengah yang berdampak pada harga energi dunia.
Analis Goldman Sachs memberikan rincian dalam catatannya. Kenaikan harga komoditas kini mulai menggerus margin keuntungan perusahaan.
“Ekonomi Eropa lebih sensitif terhadap gas daripada minyak. Kami berpendapat harga komoditas yang lebih tinggi berdampak pada margin dan membebani ekspektasi laba per saham,” tulis analis Goldman.
Risiko geopolitik tetap tinggi meskipun harga minyak Brent sempat melunak di bawah USD 90 per barel. Di sisi lain, harga gas justru merangkak naik. Hal ini dipicu oleh antisipasi puncak permintaan musim panas di pasar berkembang dan pengisian kembali stok di negara maju menjelang musim dingin.
Masalah suku bunga juga belum mereda. Bank Sentral Eropa (ECB) telah menaikkan suku bunga kebijakan sebesar 25 basis poin (bp). Inflasi yang masih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang melemah membuat pasar memprediksi adanya pengetatan lebih lanjut.
Kondisi ini menyebabkan suku bunga riil menjadi lebih membatasi. Akibatnya, risiko penurunan margin perusahaan semakin meningkat.
Alasan ketiga adalah minimnya paparan terhadap teknologi AI. Tren AI telah memacu kenaikan saham di seluruh dunia. Namun, porsi sektor teknologi di bursa Eropa hanya 10%. Pasar saham Eropa lebih banyak didominasi oleh sektor keuangan, industri, dan kesehatan.
Sebagai perbandingan, saham di Amerika Serikat (AS) naik 8% sepanjang tahun ini. Tanpa dukungan AI, kenaikannya hanya 2%. Di Asia (kecuali Jepang), pasar saham melesat 18%. Namun, jika saham Korea dan Taiwan yang berbasis AI dikeluarkan, nilainya justru turun 5%.
Meski sentimen sedang negatif, Goldman melihat ada peluang perbaikan kecil ke depan. Harga minyak Brent diperkirakan bergerak menuju level USD 90 per barel pada kuartal keempat tahun ini. Ekonom mereka juga bersikap lebih tenang terkait kebijakan pengetatan bank sentral.
Sektor teknologi, perbankan, kedirgantaraan, pertahanan, dan energi terbarukan menjadi pilihan utama saat ini. Sebaliknya, analis menyarankan untuk menghindari sektor otomotif dan kimia

