STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Ekonomi Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan ketangguhan luar biasa di tengah guncangan global. Kondisi ini berbanding terbalik dengan banyak negara maju lain yang mulai goyah. Fenomena tersebut memicu perdebatan di kalangan ekonom mengenai rahasia kekuatan Negeri Paman Sam.
Mengutip BBC, perbedaan mencolok terlihat pada sektor industri. Pabrik Volkswagen di Dresden, Jerman, resmi berhenti beroperasi akhir tahun lalu. Sebaliknya, raksasa Jerman lainnya, BMW, justru mengoperasikan pabrik terbesarnya di dunia yang berlokasi di Spartanburg, South Carolina, AS.
Dunia saat ini sedang menghadapi berbagai tekanan berat. Mulai dari tarif perdagangan era Trump, deportasi massal, hingga konflik Timur Tengah yang mengganggu harga minyak. Banyak pihak memperkirakan tekanan ini akan membebani AS, namun ekonomi mereka justru terus tumbuh stabil.
Joe Brusuelas, Kepala Ekonom di RSM, menilai perang dagang menjadi bukti nyata dinamika ekonomi Amerika. Ia menjelaskan korporasi AS tidak menyerah saat menghadapi pajak komponen asing yang tinggi. Perusahaan-perusahaan tersebut justru berinvestasi lebih besar.
“Pengeluaran modal (capex) saat ini mencapai 13.9% dari PDB AS. Angka ini seharusnya melambat mengingat adanya guncangan pasokan dan permintaan, tapi ternyata tidak,” ujar Joe.
Tekanan ekonomi ini berhasil diredam oleh kenaikan produktivitas yang signifikan. Ekonomi AS secara luas terus berekspansi dengan laju tahunan sekitar 2%. Sektor energi juga memegang peranan kunci dalam kesuksesan ini.
Revolusi shale gas melalui metode fracking mengubah posisi Amerika dalam menghadapi gejolak energi. Dalam dua dekade terakhir, AS menjadi salah satu produsen minyak dan gas terbesar dunia. Hal ini membuat ketergantungan bisnis terhadap minyak bumi menurun drastis.
Joe menambahkan perkembangan fracking sejak awal 2000-an menciptakan kondisi yang menguntungkan. Kontribusi minyak terhadap PDB per unit turun hingga separuhnya dalam 50 tahun terakhir.
Kondisi ini sangat berbeda dengan Eropa. Negara-negara Eropa sangat bergantung pada kontrak jangka panjang dan jaringan pasokan yang saling terhubung. Saat pasokan gas Rusia terputus akibat invasi ke Ukraina, ekonomi Eropa langsung terpukul hebat.
Rebecca Christie, Senior Fellow di lembaga pemikir Bruegel Brussels, melihat adanya perbedaan budaya terhadap risiko. Masyarakat Amerika dinilai lebih berorientasi pada solusi. Mereka sangat nyaman mengambil risiko jangka pendek demi keuntungan jangka panjang.
“Eropa sebagai sebuah budaya memiliki sifat menghindari risiko,” kata Rebecca.
Sistem pendanaan bisnis juga membedakan kedua wilayah ini. Perusahaan di Eropa sangat bergantung pada pinjaman bank. Di Amerika, perusahaan memiliki fleksibilitas lebih tinggi dengan mencari modal melalui pasar saham atau modal ventura.
Meski terlihat perkasa di level makro, Rebecca mengingatkan adanya masalah ketimpangan yang tinggi. Pasar tenaga kerja saat ini tidak menambah tumpukan pekerjaan baru secara masif. Harga barang semakin mahal dan banyak kota menghadapi krisis perumahan.
Data terbaru menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih cukup kuat. Pengusaha menambah 172.000 lapangan kerja pada Mei, melampaui ekspektasi pasar. Namun, inflasi mulai memberikan tanda-tanda waspada.
Harga konsumen pada Mei naik 4.2% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini lebih tinggi dari posisi April yang sebesar 3.8%. Kenaikan ini merupakan yang tercepat dalam tiga tahun terakhir.
Inflasi yang membandel dan ketimpangan yang melebar tetap menjadi risiko bagi keunggulan Amerika. Walau begitu, Joe tetap melihat posisi Amerika jauh lebih baik dibandingkan negara maju lainnya.
“Ini adalah kemeja paling bersih di tumpukan cucian yang sangat kotor,” ucap Joe.

