STOCKWATCH.ID (WASHINGTON) – Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan damai untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat bulan. Kedua belah pihak menyatakan penghentian segera dan permanen atas operasi militer di semua lini, termasuk di Lebanon.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyampaikan pengumuman tersebut pada Minggu (14/6/2026) waktu setempat. Pakistan berperan sebagai mediator dalam proses perundingan ini.
“Melalui pembicaraan yang intensif, kami dengan senang hati mengumumkan Kesepakatan Damai antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran telah DICAPAI,” tulis Sharif dalam unggahannya di media sosial X.
Sharif menambahkan seremoni penandatanganan akan dilakukan pada Jumat (19/6/2026) di Swiss.
Presiden AS, Donald Trump, mengonfirmasi kesepakatan tersebut tak lama setelah pengumuman Sharif. Melalui media sosial Truth Social, Trump menyatakan kerja sama ini sudah final.
“Kesepakatan dengan Republik Islam Iran sekarang sudah selesai,” tulis Trump.
Trump juga mengambil langkah cepat untuk memulihkan jalur perdagangan internasional. Ia memerintahkan pembukaan kembali akses laut yang sempat tersendat.
“Saya dengan ini sepenuhnya mengizinkan pembukaan Selat Hormuz bebas tol. Secara bersamaan, saya mengizinkan penghapusan segera blokade Angkatan Laut Amerika Serikat,” kata Trump.
Sebelumnya, media pemerintah Iran melaporkan adanya draf memorandum setebal 14 halaman pada Jumat lalu. Dokumen tersebut berisi poin-poin usulan perdamaian.
Poin utama kesepakatan mencakup pencabutan sanksi minyak oleh pihak AS. Sebaliknya, Iran berkomitmen membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari.
Kesepakatan ini tercapai setelah berminggu-minggu muncul pesan yang simpang siur dari Washington dan Teheran. Gencatan senjata sempat berada dalam posisi rapuh di tengah upaya diplomatik.
Hubungan kedua negara sempat terancam pada Minggu pagi. Ketegangan dipicu aksi saling serang antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon.
Serangan Israel di Beirut sempat mendapat kecaman dari Trump. Ia memperingatkan Iran dan Hizbullah agar tidak melakukan serangan balasan. Trump meminta kedua pihak tidak merusak proses damai yang sedang berjalan.
Selat Hormuz merupakan rute pengiriman minyak yang sangat krusial di Timur Tengah. Jalur ini tertutup total sejak konflik pecah pada akhir Februari lalu.
Blokade jalur air ini menyebabkan kendala pasokan komoditas penting. Harga minyak, gas, hingga pupuk melonjak drastis di pasar global. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan kembalinya fenomena stagflasi.
Inflasi di berbagai negara maju mulai merangkak naik. Tingkat inflasi tahunan di Amerika Serikat menyentuh angka 4,2% pada Mei. Angka ini merupakan level tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Dampaknya juga terasa pada kebijakan moneter dunia. Bank Sentral Eropa (ECB) mengumumkan kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin pada Kamis lalu.
Ini merupakan kenaikan suku bunga pertama ECB sejak tahun 2023. Langkah ini diambil karena perang Iran membuat target inflasi di zona euro meleset. ECB menjadi bank sentral global utama pertama yang menaikkan suku bunga akibat guncangan energi.
Ekspektasi pasar kini mulai berubah. Rencana pemangkasan suku bunga mulai memudar. Investor kini bersiap menghadapi lingkungan suku bunga tinggi yang lebih lama.
Berdasarkan data FedWatch CME, Federal Reserve kini diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun ini. Kesepakatan damai AS dan Iran diharapkan mampu memberikan sentimen positif bagi stabilitas ekonomi dunia

