spot_img

Oversubscribed 167 Kali, BACH Fokus Perkuat Modal Kerja dan Ekspansi Bisnis

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bach Multi Global Tbk (BACH) mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (8/7/2026). Emiten penyedia solusi energi dan infrastruktur telekomunikasi ini mencatat kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 167 kali selama masa penawaran.

Perseroan menawarkan 615 juta saham baru atau setara 15,06% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Harga penawaran dipatok pada kisaran Rp400-Rp500 per saham. Melalui aksi korporasi ini, BACH menghimpun dana hingga Rp307,5 miliar.

Direktur BACH, Hasby Jap, merinci penggunaan dana hasil IPO tersebut. Sekitar 70% dana dialokasikan sebagai modal kerja, khususnya untuk pembelian genset guna memenuhi permintaan penjualan dan penyewaan.

“Sisanya itu 30% akan kita gunakan untuk modal kerja, khususnya pembelian genset baik itu untuk penjualan maupun penyewaan,” ujar Hasby.

Kinerja keuangan perseroan menunjukkan tren positif sepanjang tahun buku 2025. Pendapatan BACH mencapai Rp1,73 triliun atau tumbuh hampir 40% secara tahunan. Laba bersih melonjak 97,5% menjadi sekitar Rp155 miliar dengan margin laba bersih di level 9%.

Direktur Utama BACH, Rudi Kurniawan, mengaku optimis menatap pertumbuhan jangka panjang. Perseroan menargetkan pendapatan menembus lebih dari Rp3 triliun pada 2030. Target ini didukung rata-rata pertumbuhan sekitar 12% per tahun.

“Kita sangat optimis karena ya kita melihat juga dari sisi pertumbuhan ekonomi di Indonesia maupun di bisnis kita di power system maupun di infrastruktur telekomunikasi yang merupakan kebutuhan dasar masyarakat,” kata Rudi.

Rudi menambahkan laba bersih diproyeksikan melonjak hingga Rp401 miliar atau meningkat 158% pada 2030. Perseroan juga telah mengamankan kontrak atau backlog order hingga tahun 2026 untuk menjaga stabilitas pendapatan.

Menghadapi fluktuasi nilai tukar mata uang, BACH menerapkan strategi kenaikan harga jual dan hedging kurs. Langkah ini diambil untuk memastikan kinerja tetap sesuai target yang ditetapkan manajemen.

Pasca IPO, PT Global Telekomunikasi Prima (GTP) yang merupakan bagian dari Grup Djarum bertindak sebagai pemegang saham pengendali. Komisaris Utama BACH, Anita Anwar, menyebut kolaborasi ini akan memperkuat posisi fundamental perusahaan.

“Dengan adanya pengendali dari GTP ini sudah pasti akan menjadi sinergi dan kolaborasi,” ucap Anita.

GTP berkomitmen mendukung strategi bisnis dan pengembangan infrastruktur telekomunikasi secara nasional. Sinergi ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah bagi pemegang saham dalam jangka panjang.

Terkait porsi saham publik, BACH berkomitmen menjaga porsi free float sesuai peraturan bursa di angka 15% hingga 20%. Hasby menegaskan perseroan akan tetap patuh pada regulasi pasar modal terkait komposisi kepemilikan saham tersebut.

- Advertisement -

Artikel Terkait

MSCI dan S&P DJI Soroti HSC, BEI Kaji Ulang Trigger Factor demi Jaga Status Emerging Market

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)  – Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai mengkaji...

Tael Two Partners Jual Seluruh Saham Sekar Bumi (SKBM), Kantongi Cuan Rp83,21 Miliar

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)- Tael Two Partnes Ltd, perusahaan investasi danekuiti...

MSCI dan S&P DJI Soroti Indonesia, Ini Pesan BEI kepada Pelaku Pasar demi Pertahankan Status Emerging Market

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)  – Bursa Efek Indonesia (BEI) meminta pelaku...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru