spot_img

MSCI dan S&P DJI Soroti Indonesia, Ini Pesan BEI kepada Pelaku Pasar demi Pertahankan Status Emerging Market

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)  – Bursa Efek Indonesia (BEI) meminta pelaku pasar tetap percaya terhadap prospek pasar modal Indonesia meski dua penyedia indeks global, MSCI dan S&P Dow Jones Indices (S&P DJI), sama-sama menyoroti status Indonesia sebagai emerging market. Bursa menegaskan reformasi pasar terus berjalan dan berbagai langkah perbaikan akan dipercepat untuk menjawab perhatian dari penyedia indeks global.

Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa PT Bursa Efek Indonesia, Irvan Susandy, mengatakan BEI akan melakukan berbagai upaya agar Indonesia tetap mempertahankan status sebagai emerging market.

“Iya jadi mungkin kepada stakeholders-nya Bursa Efek Indonesia lah ya. Kami akan melakukan yang terbaik untuk membuat Indonesia atau Bursa Efek Indonesia bertahan di Emerging Market dengan berbagai hal yang bisa kita lakukan,” kata Irvan di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (8/7/2026).

Irvan menilai pasar modal Indonesia memiliki fondasi yang kuat dan masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar. Menurut dia, aktivitas perdagangan saham di Indonesia pernah mencapai nilai transaksi harian sekitar USD2 miliar atau sekitar Rp34 triliun per hari.

“Dan terus terang kami di Bursa Efek Indonesia ini percaya bahwa market kita bisa terus besar karena kita pernah mencapai angka 2 billion US Dollar transaksi per hari, Rp34 triliun per hari. Kita pernah di situ, dan saya yakin bahwa potensi kita ada,” ujarnya.

Ia mengatakan berbagai perhatian yang disampaikan penyedia indeks global dipandang sebagai masukan untuk mempercepat pembenahan pasar modal Indonesia.

“Nah berbagai hal yang sekarang menjadi concern ini kan kita ambil sebagai suatu hal positif. Kita akan melakukan perbaikan atas hal-hal atau yang menjadi concern-concern tersebut,” katanya.

Karena itu, BEI berharap kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia tetap terjaga.

“Jadi saya mungkin kita berharap bahwa investor tetap confidence bahwa bursa ini tetap akan kita kelola dengan baik dan kita yakin bahwa Indonesia, Bursa Efek Indonesia akan bisa terus berkembang lebih besar dari yang sebelumnya,” ujar Irvan.

Pesan tersebut disampaikan setelah S&P DJI mengumumkan hasil evaluasi yang menempatkan Indonesia dalam status pemantauan sehingga berpotensi diturunkan dari kelompok emerging market menjadi frontier market. Sebelumnya, MSCI juga telah mengumumkan akan kembali mengevaluasi status klasifikasi pasar modal Indonesia pada tinjauan berikutnya yang dijadwalkan pada November 2026.

Menanggapi pengumuman S&P DJI, BEI memilih memperkuat komunikasi langsung dengan penyedia indeks global tersebut.

“Iya atas pengumuman S&P, kita sudah minta waktu untuk diskusi lah ya dengan S&P DJ,” kata Irvan.

Menurut Irvan, BEI telah menyampaikan berbagai perkembangan reformasi pasar kepada penyedia indeks global. Di antaranya penyampaian data granularity jenis investor, informasi pemegang saham di atas 1%, implementasi ketentuan free float minimum 15%, masa transisi selama tiga tahun bagi emiten, hingga penerapan daftar High Shareholder Concentration (HSC).

“Pada dasarnya sebenarnya kami masih terus melakukan. Kita sudah deliver granularity jenis investor, kita sudah deliver pemegang saham di atas 1%, kita juga sudah mendeliver free float 15%, peraturan yang sudah keluar dan masa grace period hingga 3 tahun. Dan yang terakhir adalah kita sudah mengeluarkan kebijakan untuk memiliki High Shareholder Concentration list yang mana itu sudah kita lakukan beberapa kali. Beberapa saham sudah masuk dalam High Shareholder Concentration dan ada saham yang sudah keluar dari High Shareholder Concentration karena kepemilikannya sudah tidak terkonsentrasi,” ujarnya.

Irvan menjelaskan komunikasi dengan penyedia indeks global tidak hanya dilakukan dengan S&P DJI. Bursa juga terus berdiskusi dengan MSCI dan FTSE Russell sebagai bagian dari proses evaluasi yang berlangsung secara berkelanjutan.

“Nah atas hal-hal tersebut kami masih terus melakukan review dan terus berkomunikasi dengan Global Index Provider dalam hal ini adalah dengan MSCI juga dan dengan FTSE. Jadi atas pengumuman S&P DJI pagi ini, terus terang kami akan berdiskusi dengan S&P sebagaimana kami berdiskusi dengan MSCI dan juga dengan FTSE selama ini,” katanya.

Selain memperkuat komunikasi, BEI juga melanjutkan berbagai program reformasi pasar. Salah satunya membantu perusahaan tercatat memenuhi ketentuan free float minimum 15% yang memiliki masa transisi selama tiga tahun. Pada tahap berikutnya, emiten juga harus memenuhi target free float 12,5%.

“Untuk free float, kita mencoba berbagai upaya untuk membantu perusahaan tercatat kita memenuhi free float 15%. Tahun depan juga ada stage di mana harus memenuhi 12,5%. Jadi teman-teman di tempatnya Pak Gede Nyoman terus berupaya membantu perusahaan tercatat untuk memenuhi itu,” ujar Irvan.

BEI juga terus menyempurnakan metodologi High Shareholder Concentration untuk meningkatkan efektivitas pengawasan terhadap saham yang memiliki konsentrasi kepemilikan maupun perdagangan.

“Metodologi HSC juga kami terus melakukan review dan melakukan improvement atas metodologi dari HSC. Memang seperti di negara lain juga metodologi HSC tidak bisa dipublikasi. Jadi kami terus melakukan improvement agar concern-concern terkait dengan concentrated trading itu bisa kita akomodir atau bisa kita pantau,” katanya.

Irvan menegaskan pengawasan Bursa tidak hanya mengandalkan daftar HSC. Surveillance terhadap seluruh aktivitas perdagangan tetap dilakukan secara berkelanjutan.

“Yang perlu diingat juga oleh teman-teman bahwa tidak hanya HSC. Teman-teman di tempatnya Pak Yoyok juga melakukan surveillance atas transaksi bursa yang terjadi. Jadi itu kita sinergikan antara tindakan pengawasan yang dilakukan oleh tempatnya Pak Yoyok dan juga dengan daftar HSC apabila memang ada saham yang kita indikasikan memiliki konsentrasi di kepemilikannya,” ujarnya.

Dalam proses reformasi tersebut, BEI juga meminta masukan dari pelaku pasar. Bursa telah menyebarkan survei kepada anggota bursa dan manajer investasi untuk memperoleh usulan mengenai langkah-langkah yang masih perlu dilakukan.

“Kita melakukan diskusi dengan para pelaku baik dengan Anggota Bursa maupun dengan para Asset Management. Dan kita juga baru saja mengeluarkan survei bagi para pelaku untuk meminta pendapat atas tindakan-tindakan aksi yang sudah kita lakukan dan apa lagi yang kita bisa lakukan menurut pendapat para pelaku,” kata Irvan.

Ia menambahkan reformasi pasar modal tetap berjalan melalui penyempurnaan regulasi, pengawasan perdagangan, penegakan hukum, dan percepatan delapan program reformasi pasar modal yang dilakukan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organization (SRO).

“Ini kita sedang melakukan proses review yang berkelanjutan dan yang sudah pasti adalah proses penegakan hukum, proses mempercepat delapan aksi percepatan reformasi pasar modal terus kita lakukan. Dan itu bersinergi dengan SRO dan dengan OJK juga. Jadi hal ini terus kita lakukan dan tindakan pengawasan mengawasi pasar sudah pasti terus dilakukan tanpa henti oleh Bursa Efek Indonesia, SRO dan juga oleh OJK,” ujarnya.

Terkait rencana dialog dengan S&P DJI, Irvan mengatakan BEI masih menunggu kepastian jadwal pertemuan.

“Sejauh ini kita… tadi pagi sih saya cek, kita masih menunggu jawaban dari mereka. Jadi kita sudah kontak cuma kita masih menunggu jawaban dari S&P-nya untuk bertemu,” katanya.

Pengumuman S&P DJI menambah perhatian terhadap pasar modal Indonesia setelah sebelumnya MSCI pada Juni 2026 menyatakan Indonesia masih berstatus emerging market, namun akan kembali melakukan evaluasi pada peninjauan berikutnya yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026. Menyikapi perkembangan tersebut, BEI menegaskan reformasi pasar akan terus dijalankan sambil menjaga kepercayaan investor dan memperkuat komunikasi dengan seluruh penyedia indeks global.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Sujito Ngadiman Jual 11,9 Juta Saham Dewi Shri (DEWI) Senilai Rp1,42 Miliar, Harga Diskon

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)- Sujito Ngadiman, salah satu pemegang saham pengendali...

Indonesia Masuk dalam Watchlist S&P Dow Jones Indices, IHSG Anjlok Lagi 1,89%

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri...

BEI Ungkap Strategi Menghidupkan Kembali Transaksi Saham yang Masih Sepi

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)  – Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan tetap...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru