STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah pada akhir perdagangan Senin (20/7/2026) waktu setempat. Sentimen investor di kawasan tersebut masih cenderung berhati-hati sehingga mayoritas indeks bergerak di zona merah.
Mengutip CNBC, indeks Stoxx Europe 600 yang berisi saham-saham utama di Eropa berakhir turun 0,3% ke posisi 639,60. Pergerakan bursa dan sektor di kawasan Eropa berlangsung bervariasi.
Indeks FTSE 100 Inggris mencatat penurunan terdalam di antara bursa utama Eropa. Indeks tersebut turun 0,71% ke level 10.524,76. Sementara itu, indeks DAX Jerman masih mampu ditutup menguat tipis 0,06% ke posisi 24.846,69. Indeks CAC 40 Prancis juga berakhir mendatar dengan kenaikan tipis 0,02% ke level 8.340,11.
Di kawasan Eropa Selatan, indeks FTSE MIB Italia melemah 0,04% ke posisi 51.862,79. Indeks IBEX 35 Spanyol juga turun 0,05% ke level 19.206,90.
Perdagangan sejak awal sesi memang sudah dibuka di zona merah. Pada awal perdagangan, indeks Stoxx Europe 600 sempat turun 0,22% dengan sebagian besar sektor berada di wilayah negatif.
Sektor perjalanan dan rekreasi menjadi penekan utama pasar. Kelompok saham ini turun 0,9% seiring masih lemahnya minat investor terhadap saham-saham berbasis konsumsi dan pariwisata.
Sebaliknya, sektor minyak dan gas menjadi sektor dengan kinerja terbaik di Eropa. Kelompok saham tersebut naik sekitar 1%, didukung penguatan harga energi dan minat investor terhadap sektor defensif.
Pada awal sesi, saham-saham minyak dan gas bahkan sempat melonjak 1,48%. Sektor teknologi juga sempat menguat 0,52%, sementara saham media naik 0,15%.
Selain bursa utama, beberapa indeks lain di Eropa juga bergerak bervariasi. Indeks SMI Swiss turun 0,62% ke level 14.254,36. Indeks BEL 20 Belgia melemah 0,20% menjadi 5.618,77.
Indeks OMX Stockholm 30 Swedia turun 0,41% ke posisi 3.133,99. Sementara indeks OMXC 25 Denmark melemah 0,35% ke level 1.895,32.
Di sisi lain, indeks HEX Finlandia naik 0,17% ke posisi 13.194,11 dan indeks PSI20 Portugal menguat 0,09% ke level 9.070,71.
Pelemahan bursa Eropa menunjukkan investor masih bersikap selektif di tengah berbagai sentimen global yang mempengaruhi pergerakan pasar keuangan.

