STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) kembali meraih pengakuan di tingkat regional setelah memborong dua penghargaan pada ASEAN Risk Awards 2026. Perseroan memperoleh ASEAN Risk Champion Award (Category 2) dan Risk Culture Award.
Penghargaan tersebut menjadi pengakuan atas keberhasilan BTN dalam menjalankan transformasi manajemen risiko yang dinilai telah memenuhi praktik terbaik di tingkat ASEAN. Penguatan manajemen risiko tersebut juga menjadi fondasi penting dalam mendukung pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan.
ASEAN Risk Awards merupakan ajang penghargaan regional yang memberikan apresiasi kepada institusi keuangan di kawasan ASEAN atas keunggulan dalam penerapan manajemen risiko, tata kelola, budaya risiko, inovasi, dan ketahanan organisasi menghadapi berbagai tantangan bisnis.
Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, mengatakan penghargaan tersebut menunjukkan transformasi BTN dibangun di atas fondasi tata kelola dan manajemen risiko yang kuat.
“Penghargaan ini bukan sekadar apresiasi atas fungsi manajemen risiko, tetapi merupakan pengakuan bahwa transformasi BTN dibangun di atas fondasi tata kelola dan risk management yang kuat,” ujar Setiyo di Jakarta, Minggu (19/7).
Menurut dia, di tengah meningkatnya kompleksitas risiko global, mulai dari ketidakpastian ekonomi, volatilitas pasar keuangan, percepatan digitalisasi hingga perubahan iklim, BTN memastikan setiap keputusan bisnis mempertimbangkan keseimbangan antara pertumbuhan, kualitas aset, kecukupan modal, likuiditas, dan keberlanjutan.
Setiyo menambahkan, selama beberapa tahun terakhir BTN telah menjalankan transformasi manajemen risiko secara menyeluruh melalui roadmap yang terstruktur dan berbagai inisiatif strategis.
Transformasi tersebut mencakup modernisasi proses bisnis kredit melalui Loan Factory, penguatan enterprise risk management, digitalisasi pemantauan risiko secara end-to-end, pemanfaatan data analytics dalam pengambilan keputusan, serta penguatan pengelolaan risiko kredit, pasar, likuiditas, operasional, dan teknologi informasi. BTN juga mengintegrasikan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam kerangka manajemen risiko perseroan.
Selain itu, BTN terus memperkuat budaya risiko di seluruh jenjang organisasi melalui peningkatan kapabilitas sumber daya manusia, penguatan governance, serta internalisasi prinsip kehati-hatian dalam setiap proses bisnis.
“Risk culture merupakan fondasi penting bagi organisasi yang ingin tumbuh secara berkelanjutan. Ketika seluruh insan perusahaan memiliki kesadaran risiko yang kuat, maka organisasi akan lebih cepat beradaptasi terhadap perubahan, lebih tangguh menghadapi tantangan, dan mampu menghasilkan pertumbuhan yang berkualitas,” kata Setiyo.
Transformasi tersebut turut berdampak pada kinerja perseroan. Sepanjang Semester I 2026, BTN membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp2,40 triliun atau meningkat 40,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,70 triliun.
Penyaluran kredit dan pembiayaan juga tumbuh 13,2% menjadi Rp418,11 triliun. Sementara total aset meningkat 8,5% menjadi Rp545,16 triliun.
Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) membaik menjadi 2,99% dari 3,30% pada Semester I 2025.
Di sisi pendanaan, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) naik 6,5% menjadi Rp398,73 triliun. Pertumbuhan tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap fundamental BTN.
Sejalan dengan transformasi BTN di bawah arahan Danantara Indonesia menuju bank beyond mortgage, penguatan manajemen risiko menjadi salah satu pilar utama dalam mendukung perluasan model bisnis perseroan ke berbagai segmen, mulai dari pembiayaan perumahan, consumer banking, corporate banking, commercial banking, hingga layanan keuangan berbasis ekosistem.
Ke depan, BTN akan terus memperkuat kapabilitas manajemen risiko yang lebih forward-looking melalui pemanfaatan data, teknologi digital, dan artificial intelligence (AI).
“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi BTN untuk terus membangun institusi keuangan yang semakin kuat, terpercaya, dan berdaya saing di tingkat regional, sekaligus mendukung Program Perumahan Nasional dan berbagai agenda prioritas pemerintah,” tutup Setiyo.

