STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk (CASH) memberikan penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait penetapan harga pelaksanaan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) I atau rights issue sebesar Rp238 per saham.
Dalam surat klarifikasi yang disampaikan kepada BEI, Perseroan menjelaskan bahwa harga tersebut ditetapkan berdasarkan kebutuhan pendanaan dan strategi jangka panjang perusahaan. Sebelumnya, BEI menyoroti harga pelaksanaan rights issue yang berada di atas harga pasar tertinggi saham CASH sepanjang 2025, yakni Rp185 per saham pada Oktober 2025.
Presiden Direktur PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk, Willy Chandry, mengatakan total kebutuhan dana Perseroan dari aksi korporasi ini mencapai Rp237,2 miliar.
“Langkah penambahan modal ini ditujukan untuk pemenuhan komitmen kepatuhan terhadap Peraturan Bank Indonesia (PBI) terkait batas minimum modal disetor bagi Penyedia Jasa Pembayaran (PJP),” ujar Willy dalam keterangannya, Sabtu (30/5/2026).
Selain untuk memenuhi ketentuan regulator, dana hasil rights issue juga akan digunakan untuk melunasi sebagian kewajiban keuangan Perseroan. Menurut Willy, langkah deleveraging tersebut diharapkan dapat memperbaiki rasio keuangan melalui pengurangan beban utang pokok, bunga, maupun denda.
Manajemen meyakini penguatan struktur permodalan akan meningkatkan kualitas fundamental dan kinerja operasional Perseroan. Karena itu, harga pelaksanaan rights issue dinilai telah mencerminkan nilai intrinsik perusahaan dan komitmen untuk menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham.
Berdasarkan rencana penggunaan dana, sekitar 45,44% dana hasil rights issue akan digunakan untuk melunasi sebagian kewajiban kepada PT Bara Alam Utama (BAU). Sebanyak 41,32% akan dialokasikan untuk modal kerja, sedangkan 13,24% digunakan untuk belanja modal (capital expenditure/capex).
Utang kepada PT BAU yang akan dilunasi meliputi pinjaman tanggal 22 April 2022 sebesar Rp5 miliar, pinjaman 14 April 2023 sebesar Rp24 miliar, pinjaman 28 Juni 2024 sebesar Rp46 miliar, serta pinjaman 26 Juni 2025 sebesar Rp50 miliar.
Sementara itu, dana capex akan difokuskan untuk penguatan infrastruktur teknologi informasi. Sebanyak 76,96% dialokasikan untuk perangkat payment gateway, server, dan keamanan jaringan. Kemudian 12,83% digunakan untuk renovasi fasilitas kantor dan 10,21% untuk pengadaan 179 unit laptop bagi karyawan.
Perseroan menjadwalkan periode penyerahan HMETD pada 18 Juni 2026. Adapun perdagangan HMETD akan berlangsung pada 19-25 Juni 2026.
Dalam aksi korporasi tersebut, setiap pemegang 168 saham lama berhak memperoleh 117 HMETD. Tingkat dilusi maksimum diperkirakan mencapai 41,05%.
Andri Wijono Sutiono (AWS) dan Hasim Sutiono (HS) bertindak sebagai pembeli siaga (standby buyer). Hingga 30 April 2026, AWS tercatat memiliki 33,80% saham Perseroan, sedangkan HS menguasai 33,64%. Keduanya merupakan pihak terafiliasi yang memiliki hubungan keluarga.
Dari sisi kinerja, CASH membukukan pendapatan sebesar Rp110 miliar pada 2025, turun dibandingkan Rp138 miliar pada 2024. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh turunnya penjualan perangkat menjadi Rp77 miliar dari sebelumnya Rp104,55 miliar.
Perseroan juga mencatat rugi bersih sebesar Rp67,7 miliar pada 2025, meningkat dari rugi bersih Rp34,8 miliar pada tahun sebelumnya. Kenaikan rugi bersih dipengaruhi oleh meningkatnya beban umum dan administrasi serta pembentukan provisi penurunan nilai piutang kepada Koperasi Catur Pilar Bersatu sebesar Rp11,1 miliar.
Untuk menjaga posisi ekuitas yang tercatat sebesar Rp62 miliar agar tidak menjadi negatif, manajemen menjalankan strategi transformasi bisnis dan efisiensi operasional. Perseroan juga berupaya meningkatkan volume transaksi dan memperluas jaringan merchant guna memperkuat kinerja usaha.
Terkait dividen, manajemen menyatakan fokus saat ini masih pada penguatan struktur permodalan dan pengembangan bisnis. Kebijakan pembagian dividen pada masa mendatang akan mempertimbangkan kondisi keuangan dan tingkat profitabilitas Perseroan.

