spot_img

CLSA: Astra Otoparts Tahan Tekanan Pasar, Raup Peluang dari Kendaraan Listrik dan Proyek Pemerintah

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) dinilai mampu mempertahankan pertumbuhan kinerja di tengah pelemahan pasar kendaraan roda empat domestik dan persaingan industri yang semakin dinamis.  Hal itu diungkapkan CLSA dalam laporan riset bertajuk Top-tier auto parts yang diterbitkan 30 Juni 2026 dan dikutip Senin (6/7/2026).

CLSA menyebut Astra Otoparts memiliki bisnis suku cadang yang terdiversifikasi.  Perusahaan didukung portofolio pelanggan original equipment manufacturer (OEM) dan bisnis perdagangan yang seimbang.  Permintaan kendaraan komersial serta meningkatnya adopsi kendaraan listrik (EV) juga menjadi penopang kinerja perseroan.

Sebagai anak usaha PT Astra International Tbk (ASII), Astra Otoparts mengelola bisnis manufaktur dan perdagangan komponen otomotif.  Perseroan menjadi pemasok tier-1 bagi OEM sekaligus pemain utama di pasar suku cadang pengganti (aftermarket).  Kontribusi Astra Otoparts mencapai sekitar 7% terhadap pendapatan ASII dan 8% terhadap laba bersih grup.

Pada 2025, Astra Otoparts membukukan pendapatan tertinggi sepanjang sejarah sebesar Rp19,9 triliun atau naik 4% secara tahunan. Laba bersih juga mencapai rekor Rp2,2 triliun, meningkat 8% dibandingkan tahun sebelumnya.  Menurut CLSA, pencapaian tersebut menunjukkan ketahanan perusahaan di tengah penurunan pasar kendaraan roda empat selama tiga tahun terakhir dan pasar roda dua yang masih lemah.

CLSA juga mencatat pendapatan dan laba bersih Astra Otoparts masing-masing tumbuh 7% dan 11% pada kuartal I-2026. Kinerja tersebut didukung pertumbuhan penjualan kendaraan roda empat domestik sebesar 13% pada Januari-Mei 2026.  Permintaan kendaraan komersial meningkat seiring proyek pemerintah, peluncuran model baru, serta berlanjutnya tren kendaraan listrik.

Di sisi harga, Astra Otoparts mulai menaikkan harga kepada pelanggan OEM sejak tahun lalu akibat kenaikan harga aluminium.  Perseroan kembali melakukan penyesuaian karena meningkatnya biaya komponen berbasis minyak seperti plastik serta pelemahan nilai tukar, mengingat sekitar 20-30% biaya pokok penjualan memiliki eksposur langsung maupun tidak langsung terhadap USD. Penyesuaian harga umumnya mulai berlaku dalam tiga hingga enam bulan.

Dalam laporan tersebut, manajemen Astra Otoparts menyampaikan, “lebih menantang untuk menaikkan harga kepada pelanggan OEM karena perusahaan harus tetap kompetitif.” Manajemen juga menyebut perseroan memiliki daya tawar harga yang lebih besar pada bisnis perdagangan, namun tetap menjaga pangsa pasar produk utama seperti aki GS Astra yang menguasai hampir 60% pasar serta ban sepeda motor sekitar 10%.

CLSA menilai peluang pertumbuhan Astra Otoparts juga datang dari kendaraan listrik.  Perseroan telah memperoleh kontrak pemasokan komponen untuk produsen kendaraan listrik asal China, yakni Jaecoo, BYD, dan VinFast.  Selain itu, kebijakan pemerintah yang mendorong peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) menjadi 60% pada 2027-2029 dari sebelumnya 40% diperkirakan akan memperkuat industri manufaktur komponen domestik.

Kontribusi kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) masih relatif kecil.  Namun, volume kendaraan hybrid terus meningkat, baik dari merek Toyota maupun non-Toyota.  Astra Otoparts juga mengembangkan ekosistem kendaraan listrik melalui jaringan pengisian daya Astra Otopower yang telah memiliki 65 stasiun pengisian ultra-cepat hingga Maret 2026, produk pengisi daya dinding Altro, serta kerja sama dengan PLN untuk pengisi daya di tiang listrik.

Ke depan, sejalan dengan strategi Astra, Astra Otoparts akan berfokus meningkatkan total shareholder return (TSR), terutama melalui kenaikan rasio pembayaran dividen dari 45% menjadi 50%. Perseroan juga tetap membuka peluang aksi merger dan akuisisi strategis yang berkaitan dengan kompetensi inti serta memperkuat bisnis utama.

Manajemen tetap berhati-hati namun optimistis terhadap kinerja sepanjang tahun ini. Manajemen tetap berhati-hati namun optimistis terhadap kinerja perseroan sepanjang tahun ini, didukung membaiknya pasar kendaraan roda empat domestik, bisnis perdagangan, serta kontribusi pendapatan ekspor. Meski demikian, manajemen tetap mencermati potensi volatilitas pasar maupun permintaan dalam beberapa bulan ke depan. CLSA juga mencatat konsensus memperkirakan pendapatan Astra Otoparts tumbuh 4,8% dan laba bersih naik 7,6% pada 2026.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Ambil Keuntungan Investasi, Inti Fikasa Sekuritas Jual Ratusan Ribu lembar Saham BAPA

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)- Inti Fikasa Sekuritas, salah satu pemegang saham...

DAAZ Tambah Pinjaman Rp48,493 Miliar ke Anak Usaha Untuk Pembangunan Kapal Baru

STOCKWATCH.ID (JAKARTA)- PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) melaporkan...

Dipicu Sederet Saham Ini, IHSG di Akhir Sesi I Turun 0,18% ke 5.864,968

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Tekanan jual masih mendominasi pasar saham di Bursa...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru