spot_img

Phapros Bagikan Dividen 15% dari Laba, Siapkan Capex Rp68,7 Miliar untuk Dorong Pertumbuhan 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Phapros Tbk (PEHA) memutuskan membagikan dividen tunai sebesar Rp4,12 miliar atau 15% dari laba bersih tahun buku 2025. Keputusan tersebut disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Pembagian dividen dilakukan setelah emiten farmasi tersebut berhasil membalikkan kinerja dengan mencatat laba bersih Rp27,4 miliar pada 2025. Angka itu tumbuh 109% dibandingkan tahun 2024 yang masih membukukan rugi Rp290,6 miliar.

Direktur Utama Intan Abdams Katoppo mengatakan, dividen yang dibagikan setara 15% dari laba bersih perseroan. Sementara 85% sisanya akan ditahan untuk mendukung keberlanjutan bisnis dan kebutuhan investasi perusahaan.

“Setelah dua tahun berturut-turut tidak memberikan dividen, akhirnya pemegang saham dapat kembali menerima dividen,” ujar Intan dalam Paparan Publik Phapros, dikutip Kamis (11/6/2026).

Menurut Intan, dana sebesar 85% dari laba bersih akan digunakan sebagai laba ditahan untuk menjaga profitabilitas jangka panjang serta mendukung kebutuhan belanja modal perusahaan.

“Untuk kesepakatannya yang 85% masih dipakai sebagai retained earnings,” kata Intan.

Direktur Keuangan Ferdinand Tredu menambahkan, dana tersebut juga akan digunakan untuk mendukung program belanja modal dan kebutuhan modal kerja.

“85% ini akan kami gunakan untuk memenuhi capex, di mana capex ini mayoritas untuk memenuhi regulasi dan juga compliance di industri farmasi. Selain itu juga mungkin kami memerlukan untuk kestabilan modal kerja kami ke depan,” ujar Ferdinand.

Untuk tahun 2026, Phapros menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp68,7 miliar. Dana itu difokuskan untuk pemenuhan regulasi industri farmasi, inovasi, serta rejuvenasi produk-produk yang sudah ada agar semakin kompetitif di pasar.

Di sisi kinerja, Phapros mencatat penjualan sebesar Rp940,88 miliar pada 2025 atau naik 26,34% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan terjadi di seluruh segmen usaha. Penjualan produk over the counter (OTC) meningkat 43,20%, obat generik berlogo (OGB) tumbuh 13,95%, sedangkan segmen ethical melonjak 55%.

Perseroan juga berhasil menekan beban pokok penjualan 5,41% menjadi Rp448,37 miliar dan memangkas beban usaha 14,64% menjadi Rp406,43 miliar sepanjang 2025. Strategi restrukturisasi biaya yang dijalankan perusahaan turut mendorong perbaikan profitabilitas.

Selain itu, liabilitas perseroan turun 7,45% menjadi Rp959,70 miliar pada 2025 dari Rp1,04 triliun pada tahun sebelumnya. Di saat yang sama, ekuitas meningkat 8,74% menjadi Rp427,47 miliar. Saldo kas per akhir 2025 juga naik 31,49% menjadi Rp120,98 miliar.

Memasuki 2026, tren pertumbuhan masih berlanjut. Ferdinand mengungkapkan penjualan kuartal I 2026 mencapai Rp221 miliar atau tumbuh 10,17% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp200 miliar.

“Phapros juga mampu menjaga arus kas dengan baik, di mana arus kas per 31 Maret kami sebesar Rp37,2 miliar. Ini naik 289% dibandingkan dengan posisi per 31 Maret 2025 yang masih dalam kondisi negatif,” kata Ferdinand.

Untuk menjaga pertumbuhan sepanjang 2026, perusahaan menyiapkan sejumlah strategi. Direktur Pemasaran Maraja Jason Siregar mengatakan perseroan akan memperkuat portofolio produk melalui peluncuran empat produk baru, yakni Vicom Grow, Vicom Star, Pehafos, dan Nacoflar Powder.

Menurut Jason, perusahaan juga fokus mendukung program pemerintah dalam penurunan stunting melalui produk multivitamin anak.

Selain peluncuran produk baru, Phapros akan meningkatkan kepuasan pelanggan, memperkuat transformasi digital, memperluas pangsa pasar, serta mendorong ekspor untuk memanfaatkan momentum penguatan dolar AS.

“Kita melakukan intensifikasi pada pasar existing dan juga melakukan ekstensifikasi untuk pasar baru di overseas market. Kemudian kita juga memperkuat pasar domestik, terutama kita fokuskan pada new open outlet,” ujar Jason.

Di tengah pelemahan rupiah dan kenaikan biaya bahan baku impor, perusahaan menyiapkan sejumlah langkah mitigasi. Direktur Produksi Ida mengatakan perusahaan melakukan penyusunan berbagai skenario, termasuk hedging, renegosiasi harga dengan pemasok, kontrak jangka panjang, diversifikasi sumber bahan baku, hingga penggunaan mata uang selain dolar AS dalam transaksi impor.

“Sejak awal memang kita punya kontrak-kontrak pengadaan bahan-bahan yang sudah diikat angkanya di awal tahun. Jadi kita melakukan re-negosiasi dengan para supplier bahan baku dari luar negeri agar tidak menaikkan harga produk,” ujar Ida.

Dengan pertumbuhan laba yang kembali positif, pembagian dividen setelah dua tahun absen, serta strategi ekspansi produk dan pasar, Phapros optimistis dapat menjaga tren profitabilitas sepanjang 2026.

- Advertisement -

Artikel Terkait

HBAT Bidik Penjualan Rp88,18 Miliar dan Laba Bersih Rp18,3 Miliar pada 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Minahasa Membangun Hebat Tbk (HBAT)...

HBAT Jawab Isu Diakuisisi Harita Group, Ungkap Strategi Hadapi Tantangan Properti 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Minahasa Membangun Hebat Tbk...

RUPST MDIY Setujui Dividen Perdana Rp17,62 per Saham, Dibayar 10 Juli 2026

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - PT Daya Intiguna Yasa Tbk (MDIY) akan...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru