Nikkei 225 Cetak Rekor Tertinggi, Bursa Asia Beragam Usai Trump Perpanjang Gencatan Senjata Iran

STOCKWATCH.ID (TOKYO) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik ditutup bervariasi pada perdagangan Rabu (22/4/2026). Investor mencermati perkembangan konflik Timur Tengah setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperpanjang gencatan senjata dengan Iran. Sentimen pasar cenderung beragam seiring ketidakpastian proses perdamaian di wilayah tersebut.

Mengutip CNBC International, indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 0,4% ke posisi 59.585,86 dan mencetak rekor tertinggi baru sepanjang sejarah. Namun, pelemahan terjadi pada indeks Hang Seng Hong Kong yang anjlok 1,22% ke level 26.163,24. Indeks Nifty 50 India juga merosot 0,81% ke posisi 24.378,10.

Indeks Kospi Korea Selatan ditutup menguat 0,46% ke level 6.417,93. Di China daratan, indeks CSI 300 naik 0,66% menjadi 4.799,62. Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia turun 1,18% ke posisi 8.843,6.

Pasar bereaksi terhadap pengumuman Trump melalui akun Truth Social miliknya. Ia memutuskan menunda serangan terhadap Iran karena melihat kondisi pemerintahan Teheran yang sedang terpecah. Keputusan ini diambil setelah ada permintaan dari pemimpin Pakistan.

Trump menegaskan militer AS akan tetap melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Gencatan senjata ini berlaku hingga Teheran menyerahkan usulan perdamaian yang terpadu. Namun, negosiator Iran menyebut pembicaraan dengan AS hanya membuang-buang waktu.

Kondisi ini membuat kunjungan Wakil Presiden AS JD Vance ke Pakistan untuk pembicaraan damai tertunda. Ketidakpastian tersebut memicu kenaikan harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent sempat berada di level 98,01 USD per barel.

Di Jepang, penguatan Nikkei didorong oleh data perdagangan yang positif. Ekspor Jepang naik selama tujuh bulan berturut-turut hingga Maret 2026. Jepang mencatatkan surplus perdagangan sebesar 667 miliar yen atau sekitar 4,18 miliar USD.

Saham SoftBank Group Corp menjadi motor penggerak dengan kenaikan hingga 10%. Hal ini terjadi setelah Rene Haas, CEO Arm Holdings, resmi merangkap jabatan sebagai CEO SoftBank Group International per 21 April. Fokus pasar kini tertuju pada rapat kebijakan Bank of Japan pekan depan.

Dari Korea Selatan, produsen cip raksasa SK Hynix mengalami penurunan saham hampir 1%. Perusahaan mengumumkan rencana investasi 19 triliun won atau 12,90 miliar USD untuk pabrik kemasan cip canggih. Harga produsen di negara tersebut juga melonjak ke level tertinggi dalam tiga tahun akibat kenaikan harga minyak.

Di India, saham HCL Technologies anjlok 8,87%. Kinerja keuangan kuartal keempat perusahaan teknologi tersebut meleset dari ekspektasi pasar. Kondisi ini menekan pergerakan indeks Nifty 50 sepanjang sesi perdagangan.

Donald Trump memberikan alasan terkait perpanjangan gencatan senjata tersebut. Ia menyebut posisi pemerintah Iran menjadi faktor utama pertimbangan AS.

“Berdasarkan fakta Pemerintah Iran sedang terpecah parah, tidak disangka-sangka dan atas permintaan Marsekal Lapangan Asim Munir, dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif, dari Pakistan, kami telah diminta menunda Serangan kami terhadap Negara Iran sampai para pemimpin dan perwakilan mereka dapat memberikan proposal yang terpadu,” ujar Trump dalam unggahannya.

Pihak Iran merespons tegas langkah AS yang tetap memberlakukan blokade pelabuhan. Seorang diplomat Iran menekankan penghentian tekanan militer sebagai syarat mutlak.

“AS harus mengakhiri blokadenya terhadap Iran sebagai syarat utama untuk pembicaraan gencatan senjata lebih lanjut di Islamabad,” tegas seorang diplomat Iran kepada kantor berita AP.

- Advertisement -

Artikel Terkait

S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor, Wall Street Melaju Usai Gencatan Senjata Iran Diperpanjang

STOCKWATCH.ID (NEW YORK) – Bursa saham Amerika Serikat atau...

Ekonomi Jerman Melambat Akibat Perang Iran, Bursa Saham Eropa Tergelincir ke Zona Merah

STOCKWATCH.ID (LONDON) – Bursa saham Eropa ditutup melemah pada...

Donald Trump Perpanjang Gencatan Senjata dengan Iran, Sebut Teheran Sedang Terbelah

STOCKWATCH.ID (WASHINGTON DC) – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald...

Populer 7 Hari

Berita Terbaru