STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Perkasa Roeslani, mengungkapkan realisasi investasi Indonesia pada triwulan II 2026 mencapai Rp511,8 triliun.
Nilai tersebut meningkat 7,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan setara 25,1% dari target investasi tahun 2026.
“Investasi yang masuk pada triwulan kedua tahun 2026 mencapai Rp511,8 triliun. Ini peningkatan 7,1%,” ujar Rosan dalam paparan realisasi investasi di Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Sementara itu, realisasi investasi pada triwulan I 2026 tercatat sebesar Rp498,8 triliun atau setara 24,4% dari target tahunan. Dari capaian investasi triwulan II tersebut, penyerapan tenaga kerja mencapai 742.263 orang atau meningkat 5,1%.
Rosan mengatakan komitmen investasi jangka panjang dari sejumlah negara mitra utama, terutama China, Jepang dan Korea Selatan, masih tetap kuat.
“Saya juga baru kembali dari China beberapa waktu yang lalu, mereka melihat investasi ke Indonesia selalu berkembang dan berjalan baik serta menghasilkan return yang baik juga,” kata Rosan.
Menurut dia, investor tetap berkomitmen menanamkan modal di Indonesia karena pemerintah terus menjaga iklim investasi melalui berbagai kebijakan yang memberikan kepastian, terutama dari sisi perizinan.
“Para investor ini tetap berkomitmen berinvestasi ke Indonesia karena di saat bersamaan kita juga selalu menjaga dan meningkatkan iklim investasi,” ujarnya.
Berdasarkan sumber investasi, kontribusi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai 49,6%, sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar 50,4%.
Dari sisi wilayah, Rosan menilai pemerataan investasi antara Jawa dan luar Jawa semakin baik. Untuk PMA, Maluku Utara menjadi tujuan investasi terbesar pada triwulan II 2026 dengan nilai Rp39,5 triliun. Posisi berikutnya ditempati Sulawesi Tengah sebesar Rp34,4 triliun atau 13,3%.
Sementara pada PMDN, DKI Jakarta mencatat investasi terbesar sebesar Rp58,6 triliun, diikuti Jawa Barat Rp26,9 triliun dan Jawa Timur Rp26,8 triliun.
Berdasarkan sektor usaha, industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya menjadi kontributor terbesar dengan nilai investasi Rp81 triliun atau setara 15,8% dari total investasi triwulan II.
Sektor transportasi, pergudangan dan telekomunikasi menyusul dengan nilai Rp57,3 triliun, kemudian pertambangan sebesar Rp53,1 triliun, jasa lainnya 9,7%, serta perdagangan dan reparasi Rp40,8 triliun.
Rosan juga mengungkapkan perubahan peta investor asing ke Indonesia. Untuk pertama kalinya dalam satu dekade terakhir, investasi melalui Hong Kong menjadi yang terbesar.
“Nah ini yang saya sampaikan, ternyata dalam quarter kedua ini untuk pertama kalinya dalam 10 tahun terakhir China investasinya lebih agresif melalui Hong Kong,” ujar Rosan.
Realisasi investasi melalui Hong Kong mencapai USD5,5 miliar. Posisi berikutnya ditempati Singapura sebesar USD4,2 miliar, Tiongkok USD1,7 miliar, Jepang USD0,9 miliar dan Malaysia USD0,7 miliar.
Selain itu, investasi di sektor hilirisasi pada triwulan II 2026 tercatat sebesar Rp152,7 triliun atau meningkat 5,7% dibandingkan periode sebelumnya. Nilai tersebut berkontribusi sebesar 29,8% terhadap total realisasi investasi triwulan II 2026.
Menariknya, Rosan mengungkapkan terjadi perubahan komoditas utama dalam program hilirisasi nasional.
“Nah ini ada shifting, bauksit. Bauksit ini nomor satu, biasanya kita tahu selalu nikel,” kata Rosan.
Menurut dia, peningkatan investasi di sektor bauksit dipicu oleh pembangunan sejumlah proyek pengolahan bauksit, baik oleh investor domestik maupun asing.
Meski demikian, pemerintah tetap mendorong pengembangan hilirisasi komoditas lainnya, seperti kelapa sawit, karet, kayu dan pasir silika. Rosan menegaskan Indonesia saat ini telah memiliki ekosistem hilirisasi nikel yang lengkap, mulai dari pengolahan bijih nikel hingga industri baterai kendaraan listrik.
“Untuk nikel memang sudah hampir the whole ecosystem, mulai dari nickel ore, nickel sulfate, nickel matte, katoda, anoda, sel baterai, baterai pack, sampai recycle baterainya,” ujar Rosan.
Pemerintah berharap model pengembangan hilirisasi seperti industri nikel juga dapat diterapkan pada komoditas strategis lainnya guna meningkatkan nilai tambah ekonomi nasional.

