STOCKWATCH.ID (HOUSTON) – Harga minyak dunia tidak banyak berubah pada akhir perdagangan Rabu (15/7/2026) waktu setempat atau Kamis pagi (16/7/2026) WIB. Kondisi ini terjadi setelah pasukan Amerika Serikat (AS) kembali menyerang sasaran Iran. Washington juga memberlakukan kembali blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di dekat Selat Hormuz.
Mengutip CNBC, harga minyak mentah Brent untuk pengiriman September naik 22 sen. Harga minyak acuan global ini berakhir di level 84,95 USD per barel, di London ICE Futures Exchange.
Adapun harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus bertambah 26 sen. Minyak WTI ditutup pada posisi 79,60 USD per barel, di New York Mercantile Exchange.
Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan telah melancarkan gelombang serangan baru terhadap Iran pada Selasa malam waktu setempat. Operasi selama tujuh jam tersebut menyasar puluhan aset militer di dekat Selat Hormuz dan sepanjang garis pantai Iran.
Serangan ini melibatkan pesawat tempur, drone, hingga kapal angkatan laut. Fasilitas rudal, fasilitas drone, aset angkatan laut, dan sistem pertahanan pantai menjadi target utama. Langkah ini bertujuan mengurangi kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran komersial.
Operasi militer tersebut dimulai saat pasukan AS melanjutkan blokade laut. Blokade ini menyasar kapal-kapal yang bepergian dari dan menuju pelabuhan-pelabuhan milik Iran.
Komandan Centcom Brad Cooper memberikan pernyataannya melalui media sosial. Ia menyebut Iran sengaja menargetkan warga sipil.
“Iran telah secara sengaja menargetkan warga sipil dan menyerang tujuh kapal komersial selama seminggu terakhir,” ujar Brad. Serangan tersebut menyebabkan belasan awak kapal tewas, hilang, atau terluka.
Saul Kavonic, analis energi senior di Mst Marquee, menilai situasi ini memupus harapan pembukaan Selat Hormuz secara cepat. Ia menyampaikan analisanya melalui surat elektronik kepada CNBC.
“Eskalasi terbaru menunjukkan harapan pembukaan Selat Hormuz dalam waktu dekat adalah prematur,” kata Saul.
Menurutnya, permusuhan dan pemberlakuan kembali blokade membuat konflik kembali ke jalur eskalasi. Ia memprediksi harga minyak bisa melambung tinggi jika ketegangan terus berlanjut.
“Minyak dapat menguji kembali level 100 USD jika intensitas permusuhan saat ini bertahan selama beberapa minggu,” tambah Saul. Harga bahkan bisa melonjak lebih tinggi jika infrastruktur minyak regional mulai menjadi sasaran serangan.

