STOCKWATCH.ID (BEIJING) – Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik bergerak bervariasi pada penutupan perdagangan Rabu (15/7/2026). Mayoritas indeks tetap menguat meski ekonomi China dilaporkan mengalami pertumbuhan kuartalan paling lambat sejak tahun 2022.
Mengutip CNBC, bursa saham China daratan ditutup melemah di tengah perdagangan yang fluktuatif. Kondisi ini dipicu oleh rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut. Pertumbuhan ekonomi China gagal memenuhi ekspektasi pasar.
Indeks CSI 300 di China daratan merosot 0,2% ke posisi 4.786,78. Penurunan ini terjadi setelah investor merespons negatif lambatnya mesin pertumbuhan ekonomi negara tersebut.
Sebaliknya, indeks Hang Seng di Hong Kong justru melonjak 1,4% pada jam terakhir perdagangan. Kenaikan Hang Seng didorong oleh sektor kesehatan yang naik 3,2% dan sektor real estat yang tumbuh 2,3%.
Saham Innovent Biologics memimpin penguatan dengan kenaikan hampir 8%. Raksasa teknologi Meituan juga ikut menguat lebih dari 5%.
Bursa Korea Selatan mencatatkan kenaikan paling tajam. Indeks KOSPI terbang 6,24% dan berakhir pada level 7.284,41. Kenaikan ini menjadi yang tertinggi dibandingkan bursa utama lainnya di kawasan Asia.
Pasar saham Jepang juga menunjukkan kinerja positif. Indeks Nikkei 225 naik 1,49% ke posisi 68.751,51. Indeks sempat menyentuh angka tertinggi di level 68.798,24 sepanjang hari perdagangan tersebut.
Bursa Australia turut berada di zona hijau. Indeks S&P/ASX 200 ditutup naik 0,37% ke level 8.841,10. Penguatan ini terjadi meski indeks sempat bergerak di level terendah 8.808,50.
Di India, indeks Nifty 50 naik tipis 0,11% ke posisi 24.078,50. Sementara itu, indeks FTSE China 50 menguat 1,13% dan berakhir di level 15.556,91.
Pasar saham Asia Tenggara bergerak beragam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia naik tipis 0,04% ke level 6.041,97. Indeks SET Thailand juga menguat 0,26% ke posisi 1.630,21.
Nasib berbeda dialami oleh bursa Malaysia. Indeks KLCI melemah 0,36% dan berakhir di posisi 1.713,76. Penurunan ini menjadikannya salah satu pasar yang terkoreksi bersama China daratan.
“China mencatatkan pertumbuhan PDB kuartalan paling lambat sejak 2022, meleset dari ekspektasi pasar,” lapor CNBC dalam ulasannya mengenai penutupan perdagangan tersebut. Hal ini menjadi sorotan utama pelaku pasar di tengah upaya pemulihan ekonomi global.

