spot_img

Setelah Rebound 18%, Ke Mana Arah IHSG Selanjutnya? Ini Analisis Astronacci

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – Gejolak pasar saham yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir ternyata membuka peluang besar bagi investor yang mampu membaca siklus pasar dengan tepat. Hal itu terlihat dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berhasil rebound lebih dari 18% setelah mencapai titik terendah pada 9 Juni 2026.

Pergerakan tersebut sejalan dengan proyeksi yang sebelumnya dipublikasikan Astronacci International melalui metode Time Trading. Dalam riset yang disampaikan kepada publik, Astronacci memperkirakan IHSG berpotensi mengalami pembalikan arah atau reversal pada 9 Juni 2026 setelah mengalami tekanan jual yang cukup dalam.

CEO dan Founder Astronacci International, Gema Goeyardi, menjelaskan proyeksi tersebut didasarkan pada akumulasi sejumlah Time Cluster penting yang berasal dari kombinasi siklus Financial Astrology, termasuk New Moon dan Moon Declination.

“Berdasarkan analisis tersebut, Astronacci mengidentifikasi area 9 Juni 2026 sebagai time bottom atau titik waktu minimum yang berpotensi menjadi awal pembalikan arah pasar,” ujar Gema Goeyardi kepada wartawan, Rabu (17/6/2026).

Saat proyeksi itu disampaikan, sentimen pasar masih didominasi kekhawatiran. Investor menghadapi tekanan jual yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Namun Astronacci menilai fase tersebut merupakan bagian dari siklus koreksi yang mendekati akhir.

Dalam analisisnya, area gap 5.241–5.390 dinilai sebagai zona akumulasi yang menarik bagi investor yang mampu melihat pasar secara objektif dan memahami siklus yang sedang berlangsung.

Prediksi tersebut kemudian terbukti. Sejak membentuk time bottom pada 9 Juni hingga mencapai area resistance time pada 15 Juni 2026, IHSG mencatat kenaikan yang menembus 18% dari area terendahnya.

Kenaikan tersebut terjadi sesuai pemetaan siklus waktu yang sebelumnya telah dipublikasikan kepada publik maupun pelanggan riset premium Astronacci.

Keberhasilan membaca arah pasar tidak hanya terlihat pada pergerakan indeks. Sebagai bentuk keyakinan terhadap hasil analisis yang dipublikasikan, Gema Goeyardi juga melakukan akumulasi saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI saat pasar berada dalam tekanan pada periode 9 Juni 2026.

Nilai transaksi yang dilakukan mencapai sekitar Rp2 miliar hingga Rp4 miliar. Ketika pasar menguat dan mencapai area resistance pada 15 Juni 2026, posisi tersebut menghasilkan floating profit sekitar Rp280 juta.

“Kami selalu menekankan bahwa market bergerak berdasarkan siklus. Saat mayoritas pelaku pasar fokus pada ketakutan, tugas kami adalah mengidentifikasi kapan fase kepanikan tersebut mendekati akhir. Ketika harga memasuki area diskon dan siklus waktu mulai mendukung, di situlah peluang terbaik biasanya muncul,” kata Gema.

Menurut Astronacci, keberhasilan mengidentifikasi titik balik pasar tersebut memperkuat posisi metode Time Trading sebagai pendekatan analisis yang tidak hanya memperhatikan harga, tetapi juga faktor waktu sebagai elemen utama dalam menentukan momentum pasar.

Meski demikian, Astronacci menilai pasar saat ini memasuki fase yang lebih menantang setelah berhasil mencapai area resistance time pada 15 Juni 2026.

Dalam pembaruan riset terbaru yang dipublikasikan pada 17 Juni 2026, Astronacci menjelaskan area 15 Juni merupakan salah satu titik waktu penting yang berpotensi menjadi area evaluasi bagi arah pergerakan IHSG berikutnya.

Berdasarkan analisis Time Geometry yang digunakan, setelah mengalami kenaikan tajam dalam waktu singkat, pasar berpotensi mengalami koreksi sementara untuk menutup gap yang terbentuk selama proses rebound.

Namun, potensi koreksi tersebut dinilai belum mengubah prospek bullish yang terbentuk sejak time bottom pada 9 Juni.

Selama IHSG mampu mempertahankan area support penting dan tidak kembali menembus area low sebelumnya di kisaran 5.241–5.390, koreksi yang terjadi berpeluang hanya membentuk higher low sebelum melanjutkan tren kenaikan berikutnya.

Pada perdagangan 17 Juni 2026, IHSG sempat menguat lebih dari 1% pada sesi pagi sebelum akhirnya berbalik melemah. Menurut Gema, kondisi tersebut masih sesuai dengan proyeksi Time Trading yang telah dipublikasikan sebelumnya.

“Turunnya IHSG setelah sempat menguat bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Setelah kenaikan yang menembus 18% dari area bottom 9 Juni, market memang memasuki area time resistance yang sebelumnya telah kami identifikasi pada tanggal 15 Juni dan 17 Juni. Dalam kondisi seperti ini, profit taking dan koreksi sehat merupakan hal yang wajar terjadi,” ujarnya.

Ia menilai investor tidak perlu terlalu fokus pada fluktuasi harian. Perhatian utama seharusnya tertuju pada kemampuan IHSG mempertahankan struktur higher low yang telah terbentuk sejak reversal 9 Juni.

“Selama area support penting masih mampu dipertahankan dan tidak terjadi breakdown ke bawah area low sebelumnya, kami melihat koreksi yang terjadi saat ini masih merupakan bagian normal dari proses pembentukan tren naik yang lebih besar. Karena itu, investor dan trader tidak perlu panik,” kata Gema.

Astronacci juga mengingatkan pentingnya manajemen risiko setelah pasar mencapai area resistance yang telah dipetakan sebelumnya.

Menurut Gema, pengambilan keuntungan secara bertahap atau take profit sebagian dapat menjadi strategi yang lebih bijak dibanding mempertahankan seluruh posisi tanpa pengelolaan risiko yang memadai.

Selain itu, investor dan trader disarankan menunggu konfirmasi pergerakan harga setelah melewati tanggal-tanggal siklus penting. Konfirmasi tersebut dapat dilihat dari kemampuan harga mempertahankan level support dan struktur higher low yang telah terbentuk.

Di sisi lain, Astronacci menyoroti pergerakan nilai tukar rupiah yang juga dinilai bergerak sesuai target analisis sebelumnya.

Setelah sempat mencapai area target di kisaran 18.220 per dolar AS, rupiah berhasil berbalik menguat hingga kembali bergerak di area 17.700 per dolar AS.

Pergerakan tersebut dinilai menunjukkan pendekatan berbasis siklus waktu tidak hanya relevan digunakan pada pasar saham, tetapi juga pada pasar mata uang.

Astronacci menilai kondisi pasar yang masih dipenuhi ketidakpastian menuntut investor dan trader untuk tetap disiplin dalam mengelola risiko. Peluang investasi tetap terbuka, tetapi harus diimbangi dengan kemampuan membaca siklus pasar dan menjaga objektivitas dalam mengambil keputusan.

Dengan IHSG yang telah bangkit lebih dari 18% dari titik terendahnya, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada fase berikutnya. Investor menunggu apakah koreksi yang terjadi hanya menjadi jeda sementara sebelum tren naik berlanjut, atau justru menjadi sinyal perubahan arah yang lebih besar. Untuk sementara, Astronacci masih mempertahankan pandangan bahwa struktur kenaikan yang terbentuk sejak 9 Juni 2026 masih tetap terjaga.

- Advertisement -

Artikel Terkait

Saham JECC dan CSAP Resmi Keluar dari Daftar Pemantauan Khusus BEI Hari Ini

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencabut...

BEI Minta Klarifikasi, DPUM Buka Suara Terkait Insiden Kebakaran Pabrik di Pati

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) – PT Dua Putra Utama Makmur Tbk...

Gelar IPO pada 01-07 Juli 2026, Proline Incar Dana Rp62,75 Miliar

STOCKWATCH.ID (JAKARTA) - Penawaran Umum Perdana (PUP) atau Initial...
spot_img

Populer 7 Hari

Berita Terbaru